<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1489275893235034343</id><updated>2011-11-28T10:38:59.812-08:00</updated><category term='Perennialisme'/><category term='pelajar oon'/><title type='text'>agungleebiologi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://agungunindrabio2a.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1489275893235034343/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agungunindrabio2a.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>agungbio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02650322077113181744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_B9z5O4G3rks/TH-5dfJbnkI/AAAAAAAAABg/lC3ThtbmItQ/S220/Picture2289.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1489275893235034343.post-8295355252246257291</id><published>2010-07-09T01:26:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T01:43:38.705-07:00</updated><title type='text'>biologi</title><content type='html'>&lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;fisiologi tumbuhan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anabolisme adalah suatu peristiwa perubahan senyawa sederhana menjadi  senyawa kompleks, nama lain dari anabolisme adalah peristiwa sintesis  atau penyusunan. Anabolisme memerlukan energi, misalnya : energi cahaya  untuk fotosintesis, energi kimia untuk kemosintesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Fotosintesis&lt;br /&gt;Arti fotosintesis adalah proses penyusunan atau  pembentukan dengan menggunakan energi cahaya atau foton. Sumber energi  cahaya alami adalah matahari yang memiliki spektrum cahaya infra merah  (tidak kelihatan), merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu dan  ultra ungu (tidak kelihatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang digunakan dalam proses  fetosintesis adalah spektrum cahaya tampak, dari ungu sampai merah,  infra merah dan ultra ungu tidak digunakan dalam fotosintesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  fotosintesis, dihasilkan karbohidrat dan oksigen, oksigen sebagai hasil  sampingan dari fotosintesis, volumenya dapat diukur, oleh sebab itu  untuk mengetahui tingkat produksi fotosintesis adalah dengan mengatur  volume oksigen yang dikeluarkan dari tubuh tumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  membuktikan bahwa dalam fotosintesis diperlukan energi cahaya matahari,  dapat dilakukan percobaan Ingenhousz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pigmen Fotosintesis&lt;br /&gt;Fotosintesis  hanya berlangsung pada sel yang memiliki pigmen fotosintetik. Di dalam  daun terdapat jaringan pagar dan jaringan bunga karang, pada keduanya  mengandung kloroplast yang mengandung klorofil / pigmen hijau yang  merupakan salah satu pigmen fotosintetik yang mampu menyerap energi  cahaya matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari strukturnya, kloroplas terdiri atas  membran ganda yang melingkupi ruangan yang berisi cairan yang disebut  stroma. Membran tersebut membentak suatu sistem membran tilakoid yang  berwujud sebagai suatu bangunan yang disebut kantung tilakoid.  Kantung-kantung tilakoid tersebut dapat berlapis-lapis dan membentak apa  yang disebut grana Klorofil terdapat pada membran tilakoid dan  pengubahan energi cahaya menjadi energi kimia berlangsung dalam  tilakoid, sedang pembentukan glukosa sebagai produk akhir fotosintetis  berlangsung di stroma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap  pembentukan klorofil antara lain :&lt;br /&gt;1. Gen :&lt;br /&gt;bila gen untuk  klorofil tidak ada maka tanaman tidak akan memiliki&lt;br /&gt;klorofil.&lt;br /&gt;2.  Cahaya :&lt;br /&gt;beberapa tanaman dalam pembentukan klorofil memerlukan  cahaya,&lt;br /&gt;tanaman lain tidak memerlukan cahaya.&lt;br /&gt;3. Unsur N. Mg, Fe :&lt;br /&gt;merupakan  unsur-unsur pembentuk dan katalis dalam sintesis klorofil.&lt;br /&gt;4. Air :&lt;br /&gt;bila  kekurangan air akan terjadi desintegrasi klorofil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tabun  1937 : Robin Hill mengemukakan bahwa cahaya matahari yang ditangkap oleh  klorofil digunakan untak memecahkan air menjadi hidrogen dan oksigen.  Peristiwa ini disebut fotolisis (reaksi terang).&lt;br /&gt;H2 yang terlepas  akan diikat oleh NADP dan terbentuklah NADPH2, sedang O2 tetap dalam  keadaan bebas. Menurut Blackman (1905) akan terjadi penyusutan CO2 oleh  H2 yang dibawa oleh NADP tanpa menggunakan cahaya. Peristiwa ini disebut  reaksi gelap NADPH2 akan bereaksi dengan CO2 dalam bentuk H+ menjadi  CH20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CO2 + 2 NADPH2 + O2 ————&gt; 2 NADP + H2 + CO+ O + H2 + O2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya  :&lt;br /&gt;Reaksi terang :2 H20 ——&gt; 2 NADPH2 + O2&lt;br /&gt;Reaksi gelap :CO2 + 2  NADPH2 + O2——&gt;NADP + H2 + CO + O + H2 +O2&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;2 H2O + CO2  ——&gt; CH2O + O2&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;12 H2O + 6 CO2 ——&gt; C6H12O6 + 6 O2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Kemosintesis&lt;br /&gt;Tidak semua tumbuhan dapat melakukan asimilasi C  menggunakan cahaya sebagai sumber energi. Beberapa macam bakteri yang  tidak mempunyai klorofil dapat mengadakan asimilasi C dengan menggunakan  energi yang berasal dan reaksi-reaksi kimia, misalnya bakteri sulfur,  bakteri nitrat, bakteri nitrit, bakteri besi dan lain-lain.  Bakteri-bakteri tersebut memperoleh energi dari hasil oksidasi  senyawa-senyawa tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakteri besi memperoleh energi kimia  dengan cara oksidasi Fe2+ (ferro) menjadi Fe3+ (ferri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakteri  Nitrosomonas dan Nitrosococcus memperoleh energi dengan cara  mengoksidasi NH3, tepatnya Amonium Karbonat menjadi asam nitrit dengan  reaksi:&lt;br /&gt;Nitrosomonas&lt;br /&gt;(NH4)2CO3 + 3 O2 ——————————&gt; 2 HNO2 + CO2 +  3 H20 + Energi&lt;br /&gt;Nitrosococcus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sintesis Lemak&lt;br /&gt;Lemak dapat  disintesis dari karbohidrat dan protein, karena dalam metabolisme,  ketiga zat tersebut bertemu di dalarn daur Krebs. Sebagian besar  pertemuannya berlangsung melalui pintu gerbang utama siklus (daur)  Krebs, yaitu Asetil Ko-enzim A. Akibatnya ketiga macam senyawa tadi  dapat saling mengisi sebagai bahan pembentuk semua zat tersebut. Lemak  dapat dibentuk dari protein dan karbohidrat, karbohidrat dapat dibentuk  dari lemak dan protein dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1. Sintesis Lemak dari  Karbohidrat :&lt;br /&gt;Glukosa diurai menjadi piruvat ———&gt; gliserol.&lt;br /&gt;Glukosa  diubah ———&gt; gula fosfat ———&gt; asetilKo-A ———&gt; asam lemak.&lt;br /&gt;Gliserol  + asam lemak ———&gt; lemak.&lt;br /&gt;4.2. Sintesis Lemak dari Protein:&lt;br /&gt;Protein  ————————&gt; Asam Amino&lt;br /&gt;protease&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terbentuk lemak asam  amino mengalami deaminasi lebih dabulu, setelah itu memasuki daur  Krebs. Banyak jenis asam amino yang langsung ke asam piravat ———&gt;  Asetil Ko-A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asam amino Serin, Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin  dapat terurai menjadi Asam pirovat, selanjutnya asam piruvat ——&gt;  gliserol ——&gt; fosfogliseroldehid Fosfogliseraldehid dengan asam lemak  akan mengalami esterifkasi membentuk lemak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemak berperan  sebagai sumber tenaga (kalori) cadangan. Nilai kalorinya lebih tinggi  daripada karbohidrat. 1 gram lemak menghasilkan 9,3 kalori, sedangkan 1  gram karbohidrat hanya menghasilkan 4,1 kalori saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sintesis  Protein&lt;br /&gt;Sintesis protein yang berlangsung di dalam sel, melibatkan  DNA, RNA dan Ribosom. Penggabungan molekul-molekul asam amino dalam  jumlah besar akan membentuk molekul polipeptida. Pada dasarnya protein  adalah suatu polipeptida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sel dari organisme mampu untuk  mensintesis protein-protein tertentu yang sesuai dengan keperluannya.  Sintesis protein dalam sel dapat terjadi karena pada inti sel terdapat  suatu zat (substansi) yang berperan penting sebagai "pengatur sintesis  protein". Substansi-substansi tersebut adalah DNA dan RNA.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/06/fisiologi-tumbuhan.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-06-01T23:38:00+07:00"&gt;11:38 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=9026344592434503856" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=9026344592434503856" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=9026344592434503856" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;   &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-9026344592434503856")); } &lt;/script&gt; &lt;div class="post-outer"&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="3653859532828949769"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/06/anabolisme.html"&gt;Anabolisme&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;Anabolisme adalah proses sintesis molekul kompleks dari  senyawa-senyawa kimia yang sederhana secara bertahap. Proses ini  membutuhkan energi dari luar. Energi yang digunakan dalam reaksi ini  dapat berupa energi cahaya ataupun energi kimia. Energi tersebut,  selanjutnya digunakan untuk mengikat senyawa-senyawa sederhana tersebut  menjadi senyawa yang lebih kompleks. Jadi, dalam proses ini energi yang  diperlukan tersebut tidak hilang, tetapi tersimpan dalam bentuk  ikatan-ikatan kimia pada senyawa kompleks yang terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  dua macam energi diatas, reaksi anabolisme juga menggunakan energi dari  hasil reaksi katabolisme, yang berupa ATP. Agar asam amino dapat disusun  menjadi protein, asam amino tersebut harus diaktifkan terlebih dahulu.  Energi untuk aktivasi asam amino tersebut berasal dari ATP. Agar molekul  glukosa dapat disusun dalam pati atau selulosa, maka molekul itu juga  harus diaktifkan terlebih dahulu, dan energi yang diperlukan juga  didapat dari ATP. Proses sintesis lemak juga memerlukan ATP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anabolisme  meliputi tiga tahapan dasar. Pertama, produksi prekursor seperti asam  amino, monosakarida, dan nukleotida. Kedua, pengaktivasian  senyawa-senyawa tersebut menjadi bentuk reaktif menggunakan energi dari  ATP. Ketiga, penggabungan prekursor tersebut menjadi molekul kompleks,  seperti protein, polisakarida, lemak, dan asam nukleat. Anabolisme yang  menggunakan energi cahaya dikenal dengan fotosintesis, sedangkan  anabolisme yang menggunakan energi kimia dikenal dengan kemosintesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyawa  kompleks yang disintesis organisme tersebut adalah senyawa organik atau  senyawa hidrokarbon. Autotrof, seperti tumbuhan, dapat membentuk  molekul organik kompleks di sel seperti polisakarida dan protein dari  molekul sederhana seperti karbon dioksida dan air. Di lain pihak,  heterotrof, seperti manusia dan hewan, tidak dapat menyusun senyawa  organik sendiri. Jika organisme yang menyintesis senyawa organik  menggunakan energi cahaya disebut fotoautotrof, sementara itu organisme  yang menyintesis senyawa organik menggunakan energi kimia disebut  kemoautotrof.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi anabolisme menghasilkan senyawa-senyawa yang  sangat dibutuhkan oleh banyak organisme, baik organisme produsen  (tumbuhan) maupun organisme konsumen (hewan, manusia). Beberapa contoh  hasil anabolisme adalah glikogen, lemak, dan protein berguna sebagai  bahan bakar cadangan untuk katabolisme, serta molekul protein,  protein-karbohidrat, dan protein lipid yang merupakan komponen  struktural yang esensial dari organisme, baik ekstrasel maupun intrasel.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/06/anabolisme.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-06-01T23:35:00+07:00"&gt;11:35 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=3653859532828949769" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=3653859532828949769" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=3653859532828949769" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-3653859532828949769")); } &lt;/script&gt; &lt;div class="post-outer"&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="4890647146713609425"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/06/struktur-dan-fungsi-sel.html"&gt;STRUKTUR  DAN FUNGSI SEL&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;SEJARAH DAN TEORI SEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Th 1485 da Vinci : menemukan lensa untuk  mengamati objek kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Th 1610 Galileo : menggunakan mikroskop  sederhana untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengamati objek-objek yang kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Th 1665  Robert Hooke : menyempurnakan komponen susunan mikroskop&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Th 1723  A.V. Leeuwenhoek : menggunakan mikroskop mengamati Protozoa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan  Bakteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Th 1824 HJ. Dutrochet : menyimpulkan bahwa seluruh  jaringan adalah sel-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sel bulat kecil yang disatukan oleh kekuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adhesive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEORI  SEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Th 1838 M. Schleiden : menyimpulkan bahwa Sel menyusun suatu  organisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Th 1839 T. Schwan : Organisme terdiri dari sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R.  Virchow : Sel berasal dari sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEORI PROTOPLASMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Th  1840 Purkinye : Isi sel adalah Protoplasma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Th 1892 Hertwig :  Protoplasma merupakan sekumpulan susbtansi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yg dibatasi oleh  selaput plasma dalam suatu ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEORI ORGANISME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad 20 :  Pengembangan dari teori protoplasma. Organisme bersel banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merupakan  individu yang memiliki diferensiasi protoplasma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Th  1963 A.G. Loewy dan P. Siekevitz, menyatakan bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEL :  adalah suatu kesatuan aktivitas biologi yang dibatasi oleh selaput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semipermiabel  dan mampu memperbanyak diri dalam suatu medium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang bebas dari  sistem kehidupan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEL, ada dua macam yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  *  Sel Prokariotik : Sederhana, tidak memiliki membran inti&lt;br /&gt;  * Sel  Eukariotik : Kompleks, dan sudah memiliki membran inti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Sel  Prokariotik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAKTERI : Bacillus GANGGANG BIRU: Oscillatoria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh  Sel Eukariotik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEL TUMBUHAN SEL HEWAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA PERSAMAAN  DAN PERBEDAAN KEDUA SEL TERSEBUT ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGIAN-BAGIAN SEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DINDING  SEL : Dinding sel yang tebal terdapat pada sel tumbuhan, terbentuk dari  selulosa. Fungsinya untuk melindungi sitoplasma dan membran plasma. Sel  hewan maupun sel tumbuhan memiliki membran plasma (plasmalemma)  bersifat semifermeabel berfungsi mengatur pertukaran zat antara  sitoplasma dengan larutan di luar sel. Membrane plasma mengandung lemak  (fosfolipid) dan protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Dinding Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUKLEUS  : Organel terbesar dan paling vital, berperan mengendalikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seluruh  aktivitas sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nukleus/karion, double membran + DNA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENTROSOM  : Berisi 2 buah sentriol yang berbentuk silinder,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengatur gerak  kromosom sewaktu pembelahan sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MIKRO TUBULUS : Transportasi  air dan ion-ion,pembentuk kerangka sel dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benang-benang  gelendong pada waktu pembelahan sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MIKRO FILAMEN : Berfungsi  menjaga struktur sel dan membentuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;komponen-komponen kontraktil  sel-sel otot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BADAN GOLGI : Sebagai alat sekresi dan penyimpan  cadangan protein&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VAKUOLA : Suatu rongga / kantong berisi  cairan dikelilingi satu lapis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membran. Berfungsi menyimpan  cadangan makanan,menimbun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sisa metabolisme dan menjaga tekanan di  dalam sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LISOSOM : Berisi enzim pencernaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endo  dan ek sositosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MITOKONDRIA : Sebagai pusat pembangkit tenaga  sel melalui proses&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respirasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PLASTIDA : terdapat hanya  pada sel tumbuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;q Leukoplas : Berwarna putih atau tidak  berwarna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Amiloplas, berfungsi membentuk dan menyimpan amilum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Elaioplas / lipidoplas, berfungsi membentuk dan menyimpan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lemak/minyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Proteoplas, berfungsi menyimpan protein&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;q Kromoplas : Memberi  warna kuning,jingga merah dan lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Karoten : warna kuning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Xantofil : warna kuning pada daun yang telah tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Fikosianin :  warna biru pada ganggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Fikoeritrin : warna merah pada  ganggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;q Kloroplas : Mengandung klorofil (berwarna hijau),  karotenoid (kuning)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan pigmen lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ klorofil a : warna  hijau biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ klorofil b : warna hijau kuning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ klorofil c :  warna hijau coklat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ klorofil d : warna hijau merah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RIBOSOM  : Berfungsi dalam Sintesis protein&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribosom dengan sintesis  protein&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RETIKULUM ENDOPLASMA : Berperan dalam sintesis dan  transportasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;protein serta transpor senyawa kimia lain  (keluar-kedalam sel),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serta penyimpan cadangan makanan. Ada dua  macam Retikulum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;endoplasma (RE) yaitu RE kasar dan RE halus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPOSISI  KIMIA DAN SIFAT-SIFAT FISIK SEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protoplasma Sel, terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur  Kimia : Unsur makro, seperti O2, C, H, N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur mikro, seperti  Ca, P, S, Cl, K, Na dan Mg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur ultrastruktur, seperti Mn, Zn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan  An-organik : berupa logam, non logam, asam, basa dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zat  Organik : berupa Karbohidrat, Protein, Lemak,Vitamin dan Asam nukleat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARBOHIDRAT,  terdiri dari unsur C,H dan O dalam bentuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monosakarida (  CnH2O), adalah gugus karbohidrat terkecil atau tunggal sebagai sumber  energi dan karbon, yaitu : Triosa (contohnya: gliseraldehid), Tetrosa,  Pentosa (contoh: ribosa dan ribulosa), Hexosa (contoh:glukosa dan  fruktosa) dan Heptosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oligosakarida adalah molekul gula yang  dibentuk oleh lebih dari satu molekul monosakarida yang saling berikatan  : Disakarida (contoh; maltosa =glukosa dan glukosa, sukrosa = glukosa  dan fruktosa, laktosa = glukosa dan galaktosa) Trisakarida,  Tetrasakarida, Pentasakarida&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisakarida adalah makromolekul,  polimer yang tersusun dari ratusan atau bahkan ribuan monosakarida yang  terikat oleh ikatan glikodisik,dalam bentuk: Homopolisakarida ( gabungan  karbohidrat, contohnya Amilum, selulosa dan Glikogen), atau  Heteropolisakarida ( netral, atau asam, gabungan glikogen dan Protein,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contohnya  : Glikoprotein )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROTEIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe-tipe Protein, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Protein sederhana : albumin, globulin, histone, prolamin,  protamine.&lt;br /&gt;  * Protein konyugasi&lt;br /&gt;        o Glikoprotein &amp;amp;  Mukoprotein : musin pada air liur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Lipoprotein : serum, jaringan  saraf, protein otak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Nukleoprotein :virus, protein asam nukelat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Kromatoprotein : haemoglobin, haemocyanin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protein Berdasarkan  Fungsinya, dibagi dua yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Protein Struktural : penyusun  bermacam-macam struktur sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Protein Fungsional / Enzim :  katalis spesifik dalam biosintesis dan aktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;metabolisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Lemak Sederhana : Lemak alami dan lilin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  * Lemak  Kompleks : Steroid : kolesterol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fosfolipida : lesitin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sphingolipida  : sfingomielin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glikolipida : serebrosida&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lipoprotein :  pada darah manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karotenoid : karoten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi lemak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Pembangun / penyusun membran sel, hormon, dan vitamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Sumber energi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JARINGAN TUMBUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEL JARINGAN ORGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JARINGAN  : MERISTEM : Apikal (terdapat di ujung akar atau batang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tumbuh  ke atas) dan jaringan Lateral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(terdapat pada bagian luar,  pertumbuhan ke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;samping).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERMANEN : Sederhana :  Epidermis,Kolenkim, Klorenkim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sklerenkim, Parenkim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks  : Floem, Xylem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JARINGAN PERMANEN TUMBUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;» Epidermis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»  Kolenkim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;» Klorenkim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;» Sklerenkim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;» Parenkim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»  Floem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;» Xilem&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/06/struktur-dan-fungsi-sel.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-06-01T23:30:00+07:00"&gt;11:30 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=4890647146713609425" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=4890647146713609425" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=4890647146713609425" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-4890647146713609425")); } &lt;/script&gt;                                       &lt;h2 class="date-header"&gt;&lt;span&gt;Monday, May 25, 2009&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;                  &lt;div class="post-outer"&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="7259047362521579758"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;Memiliki anak adalah impian setiap pasangan yang sudah menikah. Jika  suatu pasangan merencanakan untuk mempunyai anak, maka penting bagi  kedua belah pihak, suami maupun istri, untuk menjaga berat badan.  Beberapa riset menyimpulkan pada wanita yang terlalu gemuk atau terlalu  kurus lebih sering terjadi kegagalan pembuahan dibandingkan dengan  wanita dengan tubuh seimbang. Selain faktor berat badan, keseimbangan  hormonal dan faktor makanan juga sangat menentukan tingkat kesuburan  sistem reproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada wanita, gejala gangguan sistem hormonal  umumnya ditandai dengan nyeri haid dan haid tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teratur.  Membatasi asupan makanan padat kalori terutama karbohidrat dan lemak  merupakan langkah awal usaha untuk mendapatkan anak. Sebaliknya, penting  untuk memperkaya keragaman bahan makanan, terutama yang kaya gizi  penyubur sistem reproduksi, seperti vitamin E, vitamin C, vitamin B12,  asam folat, betakaroten, zat besi, seng, dan selenium. Sebagaimana  wanita, yang membutuhkan cukup asupan asam folat dan gizi penyubur lain,  pria pun demikian untuk menunjang sistem reproduksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola  makan orang Indonesia yang menyukai sayur-sayuran sebenarnya sudah  merupakan terapi sayur dan buah untuk meningkatkan kesuburan. Kalau kita  cermati, sebenarnya sayuran dan buah-buahan yang dapat meningkatkan  kesuburan sering kita temui, bahkan mungkin sering kita konsumsi.  Beberapa sayuran dan buah-buahan yang dapat membantu meningkatkan  kesuburan akan kami bahas di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegagan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegagan  juga dikenal sebagai antanan, adalah tanaman merambat yang sering  dimakan sebagai lalapan segar, terutama di Jawa Barat. Asinan Bogor  adalah makanan khas daerah yang memasukkan antanan sebagai salah satu  sayuran dalam racikan asinan. Sayuran ini memberikan rasa manis dan  sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pegagan terkandung asiaticoside, thankuniside,  isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahminoside, brahmic acid,  madasiatic acid, meso-inositol, centellose, carotenoids, garam-garam  mineral seperti garam kalium, natrium,magnesium, kalsium, besi,  vellarine, dan zat samak atau tanin. Madecocassosida dapat memacu  produksi kolagen. Kolagen ini sangat besar perannya dalam regenerasi sel  kulit termasuk sel telur (ovum) pada wanita dan sel sperma pada pria.  Pegagan juga mengandung karoten yang berperan sebagai antioksidan.  Karoten juga menjaga mutu sperma dan sel telur. Caranya dengan  melindungi dinding sperma dan sel telur dari kerusakan akibat radikal  bebas. Mineral-mineral seperti kalium, natrium, kalsium, besi dan fosfor  dalam pegagan juga penting bagi kesehatan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khasiat lain  dari pegagan adalah anti infeksi, antitoksik, penurun panas, peluruh air  seni, mengobati luka dan keloid, varises dan hemoroid (ambeien), serta  antilepra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wortel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wortel segar mengandung air, protein,  karbohidrat, lemak, serat, abu, nutrisi anti kanker, gula alamiah  (fruktosa, sukrosa, dektrosa, laktosa, dan maltosa), pektin, glutanion,  mineral (kalsium, fosfor, besi, kalium, natrium, amgnesium, kromium),  vitamin (beta karoten, B1, dan C) serta asparagine. Beta Karotennya  merupakan anti oksidan yang menjaga kesehatan dan menghambat proses  penuaan. Selain itu Beta Karoten dapat mencegah dan menekan pertumbuhan  sel kanker serta melindungi asam lemak tidak jenuh ganda dari proses  oksidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tubuh memerlukan vitamin A maka beta karoten  di hati akan diubah menjadi vitamin A. Fungsi vitamin A dapat mencegah  buta senja, mempercepat penyembuhan luka dan mempersingkat lamanya sakit  campak. Sebuha wortel ukuran sedang mengandung sekitar 15.000 IU beta  karoten. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa dengan mengkonsumsi  wortel yang dikukus sebentar akan memperbesar penyerapan beta karoten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun  wortel mengandung porphyrins. Zat ini dapat merangsang kelenjar pituary  dan meningkatkan hormon seks. Buah mengandung bisabolene, tiglic acid  dan geraniol. Biji wortel liar mengandung flavonoid, minyak menguap  termasuk asarone, carotol, pinene, dan limonene.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jambu Biji Merah&lt;br /&gt;Hampir  semua buah berwarna cerah kaya likopen. Meski tampak berwarna  kekuningan pada bagian luar buah jambu biji lokal merah, namun bagian  daging buahnya sangat merah. Seperti halnya tomat, daging buah jambu  biji lokal yang berwarna merah juga kaya akan likopen. Likopen dalam  jambu biji lokal merah bersifat antioksidan dan menyuburkan sistem  reproduksi pria. Oleh karena itu, konsumsi jus jambu biji merah secara  rutin juga dapat meningkatkan kesuburan pada pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemangi  juga dikenal sebagai sayuran yang dapat dimakan segar sebagai lalapan.  Tanaman ini menyegarkan, menghilangkan bau badan dan bau mulut. Tanaman  beraroma wangi ini mengandung arginine yang memperkuat daya tahan hidup  sperma, mencegah kemandulan, dan menurunkan gula darah. Daya tahan hidup  sperma penting untuk mendukung proses pembuahan sel telur. Sedangkan  kandungan boron berperan merangsang hormon androgen dan estrogen serta  mencegah pengeroposan tulang. Kedua hormon ini besar perannya dalam  sistem reproduksi wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman ini juga mengandung minyak  atsiri, asam askorbat, asam kafeat, iskulin, histidin, magnesium,  betakaroten, dan betasitosterol. Semua nyawa berkhasiat ini diperlukan  tubuh untuk menjaga kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan vitalitas,  dianjurkan untuk mengkonsumsi daun kemangi sebagai teman makan  sehari-hari. Bagi masyarakat Sunda di Jawa Barat, daun kemangi merupakan  menu “wajib” baik dimakan mentah sebagai lalapan atau sebagai bumbu  pepes ikan segar. Mengonsumsi daun kemangi dalam waktu lama merupakan  cara terbaik untuk memperoleh manfaat maksimal bagi pria maupun wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seledri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayuran  pelengkap berbagai masakan di Indonesia ini berkhasiat tonik, memacu  enzim pencernaan, menurunkan tekanan darah, menghentikan pendarahan,  peluruh kencing, peluruh haid, peluruh kentut, menurunkan asam urat,  membersihkan darah. Perannya dalam sistem reproduksi karena seledri  mampu memperbaiki fungsi hormonal yang terganggu, seperti nyeri haid,  haid tidak teratur, ataupun haid terlalu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun seledri  kaya senyawa minyak atsiri, kalsium, besi dan magnesium. Daun tanaman  ini juga kaya vitamin A, vitamin B, dan vitamin C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap 100  gram daun seledri segar terkandung 130IU vitamin A dan 15 mg vitamin C.  Vitamin A dan vitamin C dikenal sebagai antioksidan cukup kuat. Serangan  radikal bebas terhadap dinding sperma dan sel telur dapat dihambat oleh  kedua vitamin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun Katuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya sebagai  pelancar ASI daun katuk juga kaya senyawa yang dapat menggenjot mutu dan  jumlah sperma, termasuk membangkitkan vitalitas seksual. Daun katuk  dipenuhi senyawa fitokimia berkhasiat obat. Sedikitnya mengandung tujuh  senyawa aktif yang dapat mernagsang sintesis hotmon-hormon steroid  (seperti progesterone, astradiol, terstosteron, glukokortikoid) dan  senyawa eikosanoid (diantaranya prostaglandin, prostasiklin, tromboksan,  lipoksin, leukotrien).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikonsumsi wanita, senyawa aktif  dalam daun katuk akan memacu pembentukan hormon kewanitaan, sehingga  kulit menjadi halus. Rambut lebih sehat dan lembut. Sebaliknya, dalam  tubuh laki-laki senyawa aktif daun katuk akan merangsang pembentukan  hormon keperkasaan, yang akan menggenjot vitalitas seksual. Bahkan,  produksi sperma melaju pesat seiring dengan peningkatan kualitasnya.  Daun katuk dipuji mampu mengembalikan vitalitas dan kesuburan pria loyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  kita makan sepotong semangka (1/8 bagian), berarti kita sudah mengasup  15-20 mg likopen. Bersama vitamin C dan betakaroten dalam buah semangka,  likopen dapat melawan berbagai jenis kanker. Dalam sebuah riset  dilaporkan bahwa konsumsi likopen yang cukup pada pria bisa membantu  menurunkan resiko kanker prostat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di India pernah dilakukan  penelitian terhadap 30 pasangan tidak subur, khususnya terhadap  laki-laki dari pasangan tersebut yang berusia 23-45 tahun. Mereka  memiliki masalah dengan sperma, yakni jumlah sperma terbatas, struktur  sperma tidak normal,dan pergerakannya lamban. Dua kali dalam sehari  mereka diberi makanan kaya likopen yang masing-masing menyumbangkan 20  mg likopen (setara 1/2 bagian semangka) selama 3 bulan terus-menerus.  Hasilnya, setelah 3 bulan menjalani terapi, rata-rata jumlah sperma  mereka meningkat 67%, struktur sperma mengalami perbaikan sebanyak 63%,  dan kegesitan sperma melonjak 73%. Yang mengejutkan, 6 di antara  laki-laki yang tadinya tidak subur tersebut ternyata sukses menghamili  istrinya. Jadi, tidak ada salahnya jika ingin mendapatkan keturunan kita  memperbanyak konsumsi semangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangka juga menyimpan senyawa  pembangkit gairah, yaitu sitrulin. daya kerja senyawa ini diketahui  setara dengan viagra. Senyawa kelompok asam amino ini dapat memicu  produksi nitrit oksida, yang berperan dalam peningkatan kemampuan  seksual pria. Sitrulin juga mudah diserap tubuh dan mengalir dalam  darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm… ternyata tidak sulit mencari bahan-bahan makanan  yang dapat meningkatkan kesuburan pasangan suami-istri. Daripada minum  obat-obatan yang tidak jelas asal-usulnya, lebih baik kita memulai  mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan di atas secara rutin.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/memiliki-anak-adalah-impian-setiap.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-05-25T15:13:00+07:00"&gt;3:13 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=7259047362521579758" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=7259047362521579758" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=7259047362521579758" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; Labels: &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/search/label/media%20sehat" rel="tag"&gt;media sehat&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-7259047362521579758")); } &lt;/script&gt; &lt;div class="post-outer"&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="4698695797070168632"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;Skandal Susu bubuk formula dan makanan lain yang mengadung melamin  (bahan plastik?) dari China, sebenarnya sudah tercium sejak awal bulan  Juli 2008 yang lalu, walaupun berita itu baru beredar secara terbatas  dikalangan para agen distributor dan toko-toko penjual. Namun sekarang,  di berbagai negara maju, praktis seluruh produk susu dari China yang  mengandung melamin ditarik dari pasaran, juga semua produk China yang  mengandung susu (es Cream, Yoghurt, Gula-gula, Biskuit) walaupun tidak  mengandung melamin, terkena getahnya di tinggal konsumennya karena takut  keracunan dan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia baru hari (Jum'at 26 September  2008) Menteri Kesehatan bersama Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)  mengumumkan hasil penelitiannya terhadap bahan makanan produk China  yang beredar di Indonesia, dan diduga mengandung bahan berbahaya bagi  kesehatan. Seperti telah diduga sebelumnya dari 19 merek makanan produk  asal China yang terdaftar di BPOM (yang tidak terdaftar dan beredar di  masyarakat mungkin lebih banyak lagi) ternyata 6 diantaranya mengandung  bahan berbahaya melamin, yang kadarnya tergolong tinggi yaitu 8,51 mg/kg  sampai 945,86mg/kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengin tahu produk makanan / minuman China  yang bermelamin itu? Inilah ke enam bahan makanan/minuman yang berbahaya  untuk dikonsumsi (tapi berijin/berlisensi?) tersebut ; 1. Susu bubuk  full cream Guozhen, 2. Oreo Stick Wafer (kemasan kardus). 3.Oreo Stick  Wafer (kemasan Plastik), 4. Kembang Gula M&amp;amp;Ms (kemasan plastic) 5.  Kembang Gula M&amp;amp;Ms (kemasan tube)dan 6. Biskuit Snickers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KronologisKejadiannya  :&lt;br /&gt;Pada awal bulan Agustus 2008 yang lalu, Grup Sanlu yang berpusat  di Hebei China, telah memberi tahu mitra dagangnya, Fonterra, dari  Selandia Baru, bahwa produk susu bubuk mereka tercemar (sengaja dicemari  “dengan tujuan untuk meninggikan kadar protein” ?, sehingga lebih  menarik konsumen) dengan zat kimia melamin. Informasi rahasia itu  terjadi sebelum tanggal 8-8-2008 yaitu saat Pembukaan Olimpiade Beijing  yang paling spektakuler sepanjang sejarah Olimpiade di planet bumi ini.&lt;br /&gt;Beberapa  pekan kemudian produk susu formula bermelamin tersebut ditarik dari  pasaran, kemudian diganti dengan produk susu formula baru, namun anehnya  selang beberapa hari produk baru tersebut juga ditarik dari  peredarannya oleh sang produsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apakah gerangan dengan susu  formula produk China ini?.&lt;br /&gt;Tanda tanya besar ini memberikan  kebingungan kepada para distributor susu formula dari China yang ada  diberbagai negara. Baru pada tanggal 11 September 2008 yang lalu,  pemerintah China mengumumkan adanya zat melamin dalam produk susu bubuk  mereka, kemudian pada tanggal 19 September 2008, zat yang sama juga  ditemukan pada produk susu cair , dan juga pada makanan yang menggunakan  bahan baku susu, termasuk dalam hal ini adalah starbucks. Dan saat ini  semua produk ini SEDANG DITARIK dari peredaran dan pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah  dampak negatif yang ditimbulkan oleh bahan makanan dan minuman yang ber  melamin ini bagi kesehatan konsumen ?.&lt;br /&gt;Dari data yang ada tercatat  6.244 bayi dipastikan ginjalnya terserang, terkait dengan susu tercemar  ini, gejalanya antara lain kencing batu dan sulit kencing,  muntah-muntah. Dilaporkan 4 bayi sudah meninggal dunia. Dan angka 6.244  bayi ini naik dari 1.200 bayi pada hari sebelumnya, sungguh luar biasa.  Menteri kesehatan China sendiri mengatakan, lebih dari 1.300 bayi kini  dirawat di rumah sakit karena meminum susu tercemar tersebut, dan  sekitar 158 bayi terkena gagal ginjal akut. Kemungkinan jumlah ini akan  tersu meningkat seiring dengan semakin banyaknya orang tua yang  memeriksakan bayinya ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang,  mengapa kasus ini terungkap ke publik baru pada tanggal 11 September  2008? Padahal kasus ini sudah terdeteksi sejak awal Juli 2008 dan sudah  dilaporkan secara resmi kepada Fonterra dari Selandia Baru pada awal  Agustus 2008. Coba kita prediksi seandainya kasus ini diungkap pada awal  bulan Agustus 2008 sebelum dimulainya Olimpiade Beijing bergulir.  Disana ada 10.500 atlit dari sekitar 200 negara yang tampil diberbagai  event termasuk atlet Bulu tangkis dan angkat besi kita yang meraih  medali emas, perak serta perunggu.. Belum lagi banyaknya penggembira  termasuk para wisatawan yang datang untuk melihat langsung peristiwa  bersejarah Olimpiade Beijing. Ternyata sajian makanan dan minuman dengan  bahan baku susu yang mengandung melamin itu, tentu tidak pernah  dilewatkan dari dalam kandungan menu yang disajikan buat para atlit dan  para turis termasuk tamu-tamu Negara yang security-nya belum memperoleh  bocoran info rahasia disana. Bisa dibayangkan betapa akan terjadi  hispanik (kepanikan massal) di area Olimpiade Beijing seandainya hal ini  diungkap ke publik saat berlangsungnya Olimpiade Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi  memang, akhirnya 6.200 bayi menjadi korban kasus susu tercemar melamin  tersebut, demi suksesnyan pesta olahraga empat tahunan yang berharga  milyaran dolar tersebut. Dan ini dipandang lebih berharga daripada nyawa  manusia yang menjadi korbannya. Olimpiade yang terhebat disepanjang  sejarah dengan korban nyawa manusia yang terbesar di sepanjang sejarah  pula. Tumbal penyelenggaraan hajat tingkat dunia ternyata menuntut nyawa  manusia yang juga spektakuler banyaknya. Mungkin akan berbeda  kejadiannya, kalau saja hasil temuan kandungan melamin di dalam susu  produk China tersebut dipublikasikan kepada konsumen sejak awal bulan  Juli 2008, sehingga susu yang tercemar tersebut bisa segera ditarik dari  peredaran, dan tidak begitu besar menimbulkan korban nyawa manusia.&lt;br /&gt;Beberapa  wartawan media internasional menganalisa permasalahan produk susu China  yang tercemar ini memperlihatkan pengawasan kualitas produk yang lemah,  media setempat menuduh para pejabat yang korup sebagai penyebab produk  yang ada tidak diawasi secara maksimal, dan dibiarkan begitu saja ke  pasar. Dan yang lebih mengerikan produk-produk tersebut diekspor ke  negara lain karena harganya yang lebih murah.&lt;br /&gt;Sebelum kejadian ini,  sebenarnya sudah banyak cerita tentang jeleknya kualitas produk dari  negara tirai bamboo (China) tersebut. Ingat saja bahwa pada tahun 2004,  lebih dari 200 bayi di China menderita kekurangan gizi karena penggunaan  formula yang keliru, sekitar 13 bayi meninggal pada saat itu.&lt;br /&gt;Kemudian  ada ribuan anjing dan kucing sakit dan lebih dari 200 lainnya mati di  AS pada tahun 2007, rupanya dalam makanan hewan tersebut tercemar  melamin, lebih dari 100 produk makanan hewan dari China ditarik dari  peredaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Republik Dominika, dua merek pasta gigi asal China  dilarang beredar pada Mei 2007, karena mengandung zat kimia mematikan.  Pasta gigi ini juga diduga sebagai dalang dibalik kematian 100 orang di  Panama karena keracunan massal pada tahun 2006.&lt;br /&gt;Last but not least,  di Indonesia, hari Jum’at tanggal 26 September 2008, diumumkan oleh  Menkes dan BPOM adanya produk makanan/minuman yang mengandung melamin  berasal dari China, beredar di Indonesia, dinyatakan berbahaya bagi  kesehatan konsumennya. Kepala BPOM menduga adanya peredaran gelap alias  illegal dari susu bubuk full cream Guozhen melalui system pemasaran  berantai (Multilevel Marketing/MLM). Susu berbahaya tersebut diproduksi  oleh YANTAI NEW ERA HEALTH di CHINA. Berbagai produk makanan dari China  yang beredar di pasaran Indonesia dan tidak berlisensi BPOM ternyata ada  yang mengandung susu dengan bahan berbahaya melamin , seperti Kembang  gula White Rabbit(kemasan merah), Kembang gula White Rabbit (kemasan  biru), Soiben Drink With Milk (kemasan kuning), Soiben Drink With Milk  (kemasan hijau), Soispring Instant Milk Cereal dan Soysprinng Instant  Peanut Milk. .&lt;br /&gt;Keenam produk tersebut sejak tangal 26 September 2008  dilarang dijual dan harus ditarik dari peredaran. Bagi yang masih nekat  menjual dinyatakan telah melanggar UU No 23/1992 tentang Kesehatan serta  UU No 7/1996 tentang Pangan serta UU No 8/1999 tentang Perlindngan  Konsumen, dengan ancaman hukuman penjara sampai 5 tahuan atau denda  pidana sebesar 2 milyar rupiah.&lt;br /&gt;Ancamannya sih OK saja dan mari kita  dukung bersama, tapi bagaimana ceriteranya PRODUK ILEGAL (tanpa  ijin/lisensi BPOM) dan BERBAHAYA tersebut bisa beredar bebas di pasaran  Indonesia ??. Dan masih berapa banyak lagikah produk makanan/minuman  yang tidak terdaftar di BPOM yang ternyata (kelak setelah ada korban)  baru dinyatakan berbahaya dan ilegal?, serta rame-rame kita ancam  hukuman lagi ?. Bukankah ada pekerjaan rutin yang bersifat prevensi pada  Badan yang bertugas Mengawasi Obat dan Makanan yaitu BPOM?.&lt;br /&gt;Atau  mari kita maklumi saja bahwa memang masih pinteran malingnya (para  importir besar) dibanding seluruh aparat pengawasan kita termasuk Bea  Cukai dan BPOM, sehingga bisa kebobolan dan kebobolan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah  melamin itu sebenarnya?,&lt;br /&gt;Melamin adalah senyawa nitrogen yang  mengandung bahan kimia yang digunakan sebagai bahan perekat, bahan untuk  produk tahan api, polimer, dan pupuk di beberapa negara. Ketika senyawa  ini dicerna dalam tubuh, metabolisme menghasilkan ammonia yang dapat  menyebabkan kegagalan ginjal. Penggunaan melamin pada produk makanan  membuat kadar protein menjadi terlihat tinggi pada saat pengujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  jujur, sebenarnya sudah lama kita tahu cara berdagang “mereka-mereka”  yang menghalalkan segala cara untuk mengeruk keuntungan  sebesar-besar-nya. Dan di sisi lain kita-kita juga yang jadi korban  dimakan oleh naga mereka, yang menurutnya “itung-itung jadi tumbal hajat  besarnya”!.&lt;br /&gt;Lho kok begini jadinya???, makanya kita harus pinter,  agar tidak dipinteri oleh mereka (yang tidak pernah punya tanggung jawab  kemanusiaan).&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/skandal-susu-bubuk-formula-dan-makanan.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-05-25T15:09:00+07:00"&gt;3:09 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=4698695797070168632" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=4698695797070168632" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=4698695797070168632" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; Labels: &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/search/label/darsana%20setiawan" rel="tag"&gt;darsana setiawan&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-4698695797070168632")); } &lt;/script&gt; &lt;div class="post-outer"&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="6878728304339183407"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/dna.html"&gt;DNA&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;DNA adalah asam nukleat yang mengandung materi genetik dan berfungsi  untuk mengatur perkembangan biologis seluruh bentuk kehidupan secara  seluler. DNA terdapat pada nukleus, mitokondria dan kloroplas. Perbedaan  di antara ketiganya adalah: DNA nukleus berbentuk linear dan  berasosiasi sangat erat dengan protein histon, sedangkan DNA mitokondria  dan kloroplas berbentuk sirkular dan tidak berasosiasi dengan protein  histon. Selain itu, DNA mitokondria dan kloroplas memiliki ciri khas,  yaitu hanya mewariskan sifat-sifat yang berasal dari garis ibu. Hal ini  sangat berbeda dengan DNA nukleus yang memiliki pola pewarisan sifat  dari kedua orangtua. Dilihat dari organismenya, struktur DNA prokariot  berbeda dengan struktur DNA eukariot. DNA prokariot tidak memiliki  protein histon dan berbentuk sirkular, sedangkan DNA eukariot berbentuk  linear dan memiliki protein histon (Klug &amp;amp; Cummings 1994: 315--316;  Raven &amp;amp; Johnson 2002: 94).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DNA memiliki struktur pilinan utas  ganda yang antiparalel dengan komponen-komponennya, yaitu gula pentosa  (deoksiribosa), gugus fosfat, dan pasangan basa. Pasangan basa pada DNA  terdiri atas dua macam, yaitu basa purin dan pirimidin. 'Basa purin  terdiri atas adenin (A) dan guanin (G) yang memiliki struktur  cincin-ganda, sedangkan basa pirimidin terdiri atas sitosin (C) dan  timin (T) yang memiliki struktur cincin-tunggal. Ketika Guanin berikatan  dengan Sitosin, maka akan terbentuk tiga ikatan hidrogen, sedangkan  ketika Adenin berikatan dengan Timin maka hanya akan terbentuk dua  ikatan hidrogen. Satu komponen pembangun (building block) DNA terdiri  atas satu gula pentosa, satu gugus fosfat dan satu pasang basa yang  disebut nukleotida (Lewis 2003: 176--178).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sel memiliki  DNA yang merupakan materi genetik dan bersifat herediter pada seluruh  sistem kehidupan. Genom adalah set lengkap materi genetik (DNA) yang  dimiliki suatu organisme dan terorganisasi menjadi kromosom. (Human  Genome Project 2005: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  * DNA juga dapat diisolasi, baik pada  manusia maupun pada tumbuhan. DNA manusia dapat diisolasi melalui  darah. Darah manusia terdiri atas plasma darah, globulus lemak,  substansi kimia (karbohidrat, protein dan hormon), dan gas (oksigen,  nitrogen dan karbon dioksida). Plasma darah terdiri atas eritrosit (sel  darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (platelet).  Komponen darah yang diisolasi yaitu sel darah putih. Sel darah putih  dijadikan pilihan karena memiliki nukleus, di mana terdapat DNA di  dalamnya. DNA pada tumbuhan juga dapat diisolasi, contohnya pada  tumbuhan bawang merah (Allium cepa) dan pada pisang (Musa sp.) (Kimball  2005: 8; Kent &amp;amp; Carr 2001: 317).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  * Isolasi DNA memiliki  beberapa tahapan, yaitu:&lt;br /&gt;        o 1. Isolasi jaringan&lt;br /&gt;         o 2. Dinding dan membran sel dilisiskan&lt;br /&gt;        o 3. Diekstraksi  dalam larutan&lt;br /&gt;        o 4. Dipurifikasi&lt;br /&gt;        o 5.  Dipresipitasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip dalam melakukan isolasi DNA ada 2,  yaitu sentrifugasi dan presipitasi. Prinsip utama sentrifugasi adalah  memisahkan substansi berdasarkan berat jenis molekul dengan cara  memberikan gaya sentrifugal sehingga substansi yang lebih berat akan  berada di dasar, sedangkan substansi yang lebih ringan akan terletak di  atas. Teknik sentrifugasi tersebut dilakukan di dalam sebuah mesin yang  bernama mesin sentrifugasi dengan kecepatan yang bervariasi, contohnya  2500 rpm (rotation per minute) atau 3000 rpm (Kimball 2005: 4; Lewiston  2002:1--3; LPCH 2005: 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 5 tahap untuk melakukan isolasi  DNA, yaitu: isolasi jaringan, pelisisan dinding dan membran sel,  pengekstraksian dalam larutan, purifikasi, dan presipitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap  pertama yang dilakukan yaitu mengisolasi jaringan yang ingin digunakan,  yaitu darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap selanjutnya yaitu melisiskan dinding dan  membran sel dengan larutan pelisis sel darah merah. Setelah dilakukan  inkubasi, darah yang telah bercampur dengan pelisis sel darah merah  tersebut lalu disentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 2500 rpm.  Selanjutnya supernatan yang terbentuk dibuang dan kemudian dilakukan  ekstraksi di dalam larutan. Hal tersebut bertujuan agar didapat ekstrak  nukleus sel darah putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap berikutnya adalah purifikasi.  Tahap ini bertujuan untuk membersihkan sel darah putih dari zat-zat  lainnya, dan tahap terakhir, yaitu presipitasi bertujuan untuk  mengendapkan protein histon, sehingga untai-untai DNA tidak lagi  menggulung (coiling) dan berikatan dengan protein histon, yang  menyebabkan DNA menjadi terlihat (Kimball 2005: 4; Lewiston 2002:1--3;  LPCH 2005: 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap isolasi jaringan; untuk mengisolasi jaringan  sel darah putih, maka darah yang masih memiliki komponen-komponen  lengkap perlu dipisahkan satu dengan lainnya sehingga yang tersisa hanya  sel darah putih. Karena itu ke dalam tabung yang berisi darah diberikan  larutan pelisis sel darah merah yang merupakan larutan hipotonis.  Karena larutan tersebut hipotonis, maka akan terjadi hemolisis. Larutan  pelisis sel darah merah terdiri atas EDTA (ethylenediamine tetraacetic  acid) yang akan membentuk kompleks (chelate) dengan ion logam, seperti  Mg2+ yang merupakan kofaktor DNAse. Selanjutnya tabung dibolak-balik  denan gerakan memutar yang membentuk angka 8 agar larutan dapat menyatu  dengan sempurna selama 10 menit. Darah yang telah bercampur dengan  pelisis sel darah merah tersebut lalu disentrifugasi selama 10 menit  dengan kecepatan 2500 rpm. Selanjutnya supernatan yang terbentuk  dibuang. Untuk melisiskan membran sel dan membran nukleus sel darah  putih yang terisolasi tadi, diberikan larutan pelisis sel darah putih  yang terdiri atas EDTA dan SDS (Sodium Dodecyl Sulfate) yang berfungsi  untuk merusak lipid pada membran sel sehingga leukosit hancur (Rybicki  &amp;amp; Purves 2005: 1; Harley 2005: 410).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap selanjutnya yaitu  purifikasi. Purifikasi bertujuan untuk membersihkan sel darah putih dari  zat-zat lainnya; Ke dalam larutan tadi kemudian diberikan RNAse dan  diinkubasi selama 15 menit pada suhu 37°C. Hal tersebut bertujuan untuk  mengoptimalkan kerja enzim yang sangat dipengaruhi oleh temperatur.  Tahap berikutnya yaitu presipitasi; Tahap presipitasi dilakukan dengan  cara meneteskan larutan presipitasi protein dan kemudian divortex yang  bertujuan untuk menghomogenkan larutan. Larutan presipitasi protein  terdiri atas amonium asetat yang jika berikatan dengan protein  mengakibatkan terbentuknya senyawa baru yang memiliki kelarutan yang  lebih rendah, sehingga menyebabkan protein mengendap. Larutan tersebut  kemudian disentrifugasi kembali selama 15 menit dengan kecepatan 3000  rpm. Supernatan yang berisi DNA kemudian dituangkan ke dalam tabung  berisi isopropanol dingin dan tabung dibolak-balik kembali dengan  gerakan angka 8. Pemberian isopropanol bertujuan untuk visualisasi DNA.  Selanjutnya tabung disentrifugasi kembali selama 5 menit dengan  kecepatan 3000 rpm. Hasil dari sentrifugasi adalah terdapatnya pelet DNA  pada dasar tabung yang kemudian ditambahkan etanol 70% dan  dibolak-balik kembali. Pemberian etanol bertujuan untuk membersihkan DNA  dari pengotor-pengotornya. Setelah tercampur, tabung kemudian  disentrifugasi kembali selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Hasil  akhirnya adalah DNA yang berada pada tepi dasar tabung. Langkah akhirnya  adalah dengan pemberian Tris-EDTA yang bertujuan untuk melarutkan  kembali DNA untuk dipreservasi (Harley 2005: 409--410; Lewiston 2002:  1--2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isolasi DNA genom buah pisang memiliki prinsip yang sama  dengan isolasi DNA sel darah putih. Langkah pertama adalah dengan  memasukkan buah pisang ke dalam blender dan blender selama 5 menit.  Hasil blender kemudian ditambahkan air dengan perbandingan 1:1 dan garam  lalu diaduk selama 15 menit. Garam memiliki fungsi yang sama dengan SDS  pada isolasi DNA genom sel darah putih, yaitu untuk memberikan kondisi  ionik, sehingga reaksi berjalan lebih stabil. Campuran tersebut kemudian  disaring dengan corong dan ditambahkan isopropanol yang berfungsi untuk  memvisualisasikan DNA dan menetralkan (desalted) sebab isopropanol  tidak memiliki muatan, sedangkan DNA bermuatan negatif (-). Kemudian  tabung dibolak-balik untuk mendapatkan DNA. Akan tetapi, setelah  diberikan Tris-EDTA, yang didapat oleh praktikan hanyalah pengotor yang  tidak larut di dalamnya. Hal ini dapat terjadi karena kurang teliti  dalam mengerjakan proses isolasi tersebut (Harley 2005: 410).&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/dna.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-05-25T15:05:00+07:00"&gt;3:05 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=6878728304339183407" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=6878728304339183407" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=6878728304339183407" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-6878728304339183407")); } &lt;/script&gt; &lt;div class="post-outer"&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="3618163476394667120"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/genetika-dan-pengendalian-mikrobiologi.html"&gt;Genetika  dan Pengendalian Mikrobiologi&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;Genetika Prokariot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oswald Avery dan kawan-kawan pada tahun  1940 menunjukkan bahwa materi hereditas adalah ADN dan bukan protein.  Kemudian pada tahun 1953 James Watson dan Francis Crick mengusulkan  bahwa molekul ADN terdiri dari dua benang yang berikatan satu sama lain  melalui ikatan hidrogen. Kedua benang itu berjalan melingkari satu  dengan lainnya sehingga membentuk heliks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dogma sentral yang  diusulkan oleh Francis Crick mengatakan bahwa informasi yang terkandung  di dalam ADN dapat ditranskripsikan menjadi ARN dan informasi di dalam  ARN dapat ditranslasikan menjadi protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak dogma sentral  diperkenalkan untuk pertama kali, telah dipelajari bahwa beberapa virus  memproduksi enzim yang dapat menstranskripsikan ARN menjadi ADN dan  virus-virus tersebut dapat mereplikasikan genom ARNnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses  sintesis ADN dengan ARN sebagai template disebut transkripsi balik.  Transkripsi adalah proses pembentuk ARN dengan model (template) ADN dan  dikatalisis oleh enzim ARN polimerase. Sedangkan transkripsi balik  adalah sintesis ADN menggunakan ARN sebagai template dan dikatalisis  oleh enzim transkriptase balik. Proses translasi dilakukan oleh ribosom;  dan replikasi ADN dilakukan dengan bantuan kompleks ADN polimerase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George  Beadle dan Edward Tatum berjasa karena mampu mengumpulkan data untuk  mendukung hipotesis “satu gen mengontrol aktivitas satu polipeptida”  (one gene one enzyme hyphotese) pada eukariot rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakteri  umumnya mengandung satu genom ADN sirkuler yang melekat pada membran  selnya. Genom bakteri bereplikasi dimulai dari satu tempat menuju kedua  arah (bidirectional). Satu genom dapat melakukan replikasi lengkap dalam  kurang dari setengah jam. Sejumlah enzim dan protein terlibat dalam  replikasi ADN seperti ARN polimerase yang membuat ARN primer, ADN  ligase, ADN polimerase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Replikasi ADN berlangsung secara  semikonservatif. Pada bakteri, genom anak terpisah satu sama lain oleh  pertumbuhan membran sitoplasma di antara titik perlekatannya. Sel anak  terbentuk bila membran sel dan dinding sel melakukan invaginasi dan  membentuk pembatas di antara kromosom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prokariot seperti halnya  eukariot mensintesis tiga tipe ARN yaitu ARN-d, ARN-t, dan ARN-r. ARN  ribosom merupakan komponen struktural dari ribosom. Pada bakteri ARN-r  5S dan 23S terdapat pada sub unit ribosom 30S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat 1 sampai 6  ARN-t untuk masing-masing asam amino dari 20 asam amino yang dikenal  pembentuk protein. Ribosom mengkatalisis pembentukan ikatan peptida di  antara dua asam amino yang berdekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintesis protein terdiri  atas 3 tahap, inisiasi, elongasi, dan terminasi. Pada bakteri, selama  inisiasi ribosom 70S yang merupakan pertautan dari subunit 30S dan 50S  pada kodon start AUG pada ARN-d. Selama elongasi asam amino membentuk  ikatan kovalen secara berurutan mengikuti gerakan ribosom sepanjang  ARN-d. Terminasi sintesis potein terjadi jika ribosom sampai kepada  kodon nonsens (UAA, UGA, UAG). Peptida selanjutnya terlepas dari ikatan  ARN-t dan ribosom berdisosiasi menjadi sub unitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kode genetika  adalah triplet, karena masing-masing kode terbentuk dari tiga  nukleotida yang disebut kodon. Kodon terdiri dari tiga dari empat  kemungkinan nukleotida (A, U, C dan G). Ini berarti akan terdapat 43 =  64 kodon. Keenam puluh empat kodon ini dikenal oleh ARN-t kecuali tiga  yang disebut kodon nonsens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marshall Nirenberg dan Gobin Khorana  berjasa dalam hal menemukan kode genetika ini. Dan kode genetika ini  berlalu universal untuk semua organisme dari bakteri sampai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar  Molekuler Variasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bakteri, mutasi spontan pada suatu gen  tertentu terjadi dengan laju kurang lebih 10-7 sampai 10-9 (satu dalam  setiap 107 sampai 109 bakteri). Pada eukariot tingkat tinggi mutasi  semacam itu terjadi dengan laju yang lebih tinggi, yaitu 10-4 sampai  10-7, kebanyakan mutasi spontan pada bakteri disebabkan oleh panas dan  sinar ultrabiolet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan seringkali menginduksi terjadinya  mutasi dengan sinar ultraviolet, zat kimia pengalkil, asam nitrat, dan  basa analog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat tiga tipe bakteri jantan, yaitu F+, Hfr,  dan F’. Bakteri jantan mampu memindahkan informasi genetiknya kepada  bakteri betina (F-) pada peristiwa konyugasi. Bakteri jantan gram  negatif umumnya melekat pada bakteri betina melalui tabung panjang pili  kelamin. Melalui pili inilah informasi genetika dipindahkan. Bakteri  gram positif tidak membentuk pili kelamin yang dapat dilihat. Perkawinan  pada bakteri gram negatif ialah dengan melakukan perlekatan satu sama  lain selanjutnya membentuk hubungan antarsitoplasma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konyugasi  antara strain Hfr prototrofik dengan F- auksotrofik, telah berhasil  digunakan untuk pemetaan kromosom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transduksi terjadi jika virus  memasukkan ADN ke dalam sel, kemudian terjadi rekombinasi. Transduksi  umum maupun khusus pada bakteriofage telah digunakan untuk pemetaan  kromosom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transformasi terjadi jika ADN telanjang masuk ke dalam  sel dan membentuk rekombinasi dengan informasi genetik sel yang  bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genetika Eukariot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi genetis pada  eukariot adalah ADN benang ganda. Pada banyak eukariot tingkat tinggi,  lebih dari 99% ADN tidak mengkode ARN-d, ARN-t atau pun protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus  sel dibagi menjadi periode gap pertama (G1), sintesis ADN (S), gap  kedua G2), mitosis (M), dan sitokinesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama periode gap,  tidak terdapat aktivitas materi hereditas secara sitoplasma yang dapat  diamati. Selama periode sintesis, materi hereditas melakukan replikasi.  Pada mitosis dan sitokinesis, kromosom menjadi sangat padat dan bergerak  cepat di dalam sitoplasma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konyugasi pada eukariot melibatkan  fusi sebagian atau fusi lengkap di antara dua tipe kawin. Eukariot  mencegah terjadinya penggandaan kromosom ketika mereka melakukan  konyugasi, dengan cara mereduksi jumlah kromosomnya menjadi setengah  dari jumlah semula. Sel haploid yang demikian ini dibentuk melalui  pembelahan meiosis, dan sering disebut sebagai gamet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak  50% sampai 75% gen pada eukariot tingkat tinggi tidak mengkode sesuatu  untuk dihasilkan. Daerah yang tidak mengkode sesuatu ini disebut intron,  dan daerah pada kromosom yang mengkode informasi tertentu disebut exon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Translasi  eukariot terjadi dalam sitoplasma dan dilakukan oleh ribosom 80S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekayasa  Genetika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekayasa genetik berkembang dengan pesat dengan  berhasilnya diisolasi dan karakterisasi enzim endonuklease restriksi  yang mampu memotong benang ADN pada tempat khusus. Di samping itu juga  ditemukan bahwa ADN seperti plasmid. Sementara itu potongan-potongan  benang ADN dapat disambung kembali menggunakan enzim ligase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat  empat tahap rekayasa genetik, yaitu isolasi ADN, pembuatan wahana,  kloning, dan produksi. Agar ADN yang diinginkan itu diekspresikan, maka  ADN itu harus ditempatkan dekat promotor site dari sel yang dititipi  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat sekarang dengan rekayasa genetik yaitu melalui  fusi protoplasma antara sel plasma kanker dengan sel plasma normal,  sehingga terbentuk sel yang hibridoma yang mampu menghasilkan satu tipe  antibodi (monoklonal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antibodi monoklonal dapat digunakan untuk  berbagai keperluan seperti alat diagnostik, vaksin, pengobatan,dan  sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikrobiologi Tanah/Pertanian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sistem  memiliki 2 komponen yaitu komponen fisikokimia dan komunitas organisme  yang ada di dalamnya. Ekosistem dalam ekologi mikroba dapat berupa  sistem mikro maupun sistem makro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum setiap sistem  memiliki ciri-ciri yaitu adanya dinamika populasi, keanekaragaman,  mekanisme adaptasi dan adanya hubungan antarorganisme yang ada di dalam  sistem tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah sebagai suatu sistem, memiliki anggota  komunitas yang tersusun dari berbagai populasi mikroba yaitu bakteri,  Actinomycetes, kapang (jamur), alga, virus, khamir dan protozoa. Macam  dan jumlah mikroba tanah tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor jenis  tumbuhan, pH, temperatur, curah hujan, macam tanah dan kelembaban tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran  Mikroba sebagai Dekomposer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai populasi mikroba tanah  berperan membantu menyediakan zat-zat makanan bagi tumbuhan. Zat-zat  makanan yang tersedia di dalam tanah, yang dapat dimanfaatkan oleh  tumbuhan antara lain berupa senyawa-senyawa karbon dioksida, dan ion-ion  nitrat, sulfat, fosfat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di alam terjadi peristiwa daur ulang  senyawa-senyawa organik dan anorganik, berubah dari satu bentuk ke  bentuk lain, sehingga terjadi suatu siklus. Siklus-siklus materi  tersebut menyangkut siklus karbon, nitrogen, fosfor, sulfur dan besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikrobiologi  Air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air yang terdapat di bumi ini dikelompokkan menjadi air  atmosfer, air permukaan dan air di bawah permukaan tanah. Struktur  komunitas pada ekosistem air secara umum terdiri atas kelompok autotrof  dan kelompok saprotrof.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekosistem air permukaan dapat dibedakan  menjadi ekosistem air mengalir dan ekosistem air tergenang yang memiliki  perbedaan-perbedaan baik secara fisik, biologi maupun kimia. Ditinjau  dari kandungan kadar garamnya terdapat adanya ekosistem air tawar dan  ekosistem air laut. Pada ekosistem air tawar maupun air laut, keduanya  memiliki daerah yang khas kearah vertical, yang memberikan ciri pada  komunitas yang menempatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi mikroba pada ekosistem air,  terutama adalah sebagai produser dan decomposer sedangkan di ekosistem  tanah mikroba hanya berperan sebagai decomposer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air bagi  Kehidupan Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar peruntukannya air dikelompokkan  menjadi 4 kelompok yaitu air golongan A, B, C, dan D. Air yang  diperuntukkan bagi rumah tangga, umumnya termasuk golongan B dan perlu  dilakukan pengolahan terlebih dahulu agar dapat memenuhi syarat  kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengolahan air kotor yang umumnya telah  tercemar dilakukan secara bertahap, yaitu melalui tahap penyaringan  bahan-bahan kasar, pengendapan secara fisik, koagulasi, penyaringan  secara halus dengan pasir, khlorionasi selanjutnya baru dapat  didistribusikan ke masyarakat konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan pencemar di dalam  air dapat berupa pencemar, fisik, kimia maupun biologi. Pencemar biologi  ditandai dengan adanya bakteri coliform, antara lain bakteri E. coli.  Untuk mengetahui adanya bakteri secara keseluruhan dan bakteri E. coli  khususnya dalam suatu contoh air, perlu dilakukan uji bakteriologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar-dasar  Pengendalian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai macam sarana proses fisik telah tersedia  untuk mengendalikan populasi mikroba. Pengendalian tersebut dapat  dilakukan dengan cara mematikan mikro-organisme, menghambat pertumbuhan  dan metabolismenya, atau secara fisik menyingkirkannya. Cara  pengendalian mana yang digunakan tergantung kepada keadaan yang berlaku  pada situasi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian suhu tinggi/terutama pada uap  bertekanan, merupakan salah satu cara yang paling efisien dan efektif  untuk mensterilkan sesuatu bahan. Namun demikian bahan-bahan tertentu  yang biasa digunakan di laboratorium, rumah-rumah penduduk, dan  rumah-rumah sakit mudah rusak bila dikenai suhu tinggi. Prosedur  sterilisasi pilihan seperti radiasi, penggunaan berkas elektron, atau  penyaringan harus digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan yang akan  rusak bila diberi suhu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersedia beribu-ribu zat kimia  dipakai untuk mengendalikan mikroorganisme. Penting sekali memahami  ciri-ciri pembeda masing-masing zat ini dan organisme yang dapat  dikendalikannya serta bagaimana zat-zat tersebut dipengaruhi oleh  lingkungannya. Setiap zat kimia mempunyai keterbatasan dalam  keefektifannya, bila digunakan dalam kondisi praktis  keterbatasan-keterbatasan ini perlu di amati. Tujuan yang dikehendaki  dalam hal pengendalian mikroorganisme tidak selalu sama. Pada beberapa  kasus mungkin perlu mematikan semua organisme (sterilisasi) sedangkan  pada kasus-kasus lain mungkin cukup mematikan sebagian mikroorganisme  tetapi tidak semua (sanitasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian pemilihan suatu  bahan kimia untuk penggunaan praktis dipengaruhi juga oleh hasil  antimikrobial yang diharapkan daripadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kerja zat-zat  kimia dalam menghambat atau mematikan mikroorganisme itu berbeda-beda,  beberapa diantaranya mengubah struktur dinding sel atau membran sel yang  lain menghambat sintetis komponen-komponen seluler yang vital atau yang  mengubah keadaan fisik bahan selular. Pengetahuan mengenai perilaku  khusus tentang bagaimana suatu zat kimia menghasilkan efek anti mikroba  sangat berguna baik untuk mempertimbangkan kemungkinannya bagi  penggunaan praktis maupun untuk mengusulkan perbaikan-perbaikan apa yang  mungkin dilakukan untuk merancang bahan bahan kimia baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desinfeksi  adalah proses penting dalam pengendalian penyakit, karena bertujuan  merusak agen-agen patogen. Berbagai istilah digunakan berkaitan dengan  agen-agen kimia sesuai dengan kerjanya atau organisme yang khas yang  terkena. Istilah-istilah ini meliputi desinfektan, antiseptic, agen  bakteriostasis, bakterisida, germisida, sporisida, virisida, fungisida,  dan preservative (pengawet).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme desinfektan mungkin  beraneka dari satu desinfektan ke desinfektan yang lain dapat  menyebabkan kerusakan pada membran sel atau oleh tindakan pada protein  sel atau pada gen yang khas yang berakibat kematian atau mutasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor  yang mengubah laju desinfeksi mencakup macam agen konsentrasi, waktu  dan suhu, jumlah mikroorgansime dengan ciri-cirinya (misalnya perbedaan  jenis, spora, dan kapsul) dan keadaan medium yang mengelilinginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  merencanakan desinfeksi, desinfektan harus dipilih sesuai organisme  yang akan dihancurkan dan material yang akan diperlakukan. Keamanan  selalu menjadi pertimbangan utama, dan variabel perlu ditangani  sebagaimana diperlukan untuk menjamin hasil yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai  uji dalam penggunaan untuk menilai agen-agen kimia. Semuanya menyediakan  jumlah tertentu informasi yang berguna namun harus diingat keterbatasan  uji yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikroorganisme, Penyakit-Resistensi dan  Pemindah sebarannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh manusia mempunyai flora normal yang  mulai diperolehnya segera setelah lahir. Setiap bagian tubuh mempunyai  keadaan lingkungan khusus yang didiami berbagai macam mikroba yang  berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil interaksi antara inang dan mikroba ada yang  menyerang inang. Apakah suatu mikroorganisme itu akan menimbulkan  penyakit ditentukan oleh tidak hanya sifat- sifatnya, tetapi juga oleh  kemampuan inangnya untuk menekan infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resistensi inang dapat  berupa resistensi alamiah atau resistensi khusus. Resistensi alamiah  bergantung kepada sejumlah faktor. Faktor-faktor resistensi yang dibawa  sejak lahir adalah; spesies, ras dan perorangan. Faktor-faktor luar  meliputi rintangan mekanis dan kimiawi tubuh. Diantara faktor-faktor  pertahanan internal adalah peradangan, fagositosis, komplemen, dan  interferon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit yang dipindahsebarkan melalui udara meliputi  wahana tetesan liur dan sekresi pernafasan liurnya, debu tercemar, dan  fomit. Gerbang masuk bagi penyebab penyakit adalah nasofaring. Beberapa  infeksi asal udara ini menyerang sistem organ lain pada tubuh meskipun  mereka memasuki tubuh melalui hidung maupun tenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit  asal makanan ditularkan melalui penelanan makanan yang tercemar oleh  jenis-jenis mikroorganisme tertentu dalam jumlah cukup tinggi sehingga  mencakup dosis infektif. Ada dua mekanisme yang terlibat pada peracunan  makanan oleh mikrorganisme, yaitu infeksi asal makanan dan keracunan  makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber infeksi asal air yang sesungguhnya ialah tinja  yang telah mencemari air. Bahan tinja mengandung mikroorganisme  patogenik bila berasal dari orang-orang yang terinfeksi atau penular.  Sayangnya, air merupakan wahana yang baik bagi penularan dan penyebaran  penyakit-penyakit enterik semacam itu, yang kesemuanya mempunyai rute  tinja ke mulut ke usus. Rute ini harus dihambat untuk dapat  mengendalikan infeksi enterik asal air dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arthropoda  tidak hanya merupakan penular mekanis penyakit ( seperti penularan demam  tifoid oleh lalat rumah), tetapi juga merupakan vektor biologis, karena  mikroba patogenik yang ditularkannya berinkubasi dan berkembang di  dalam diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sejumlah besar penyakit yang  ditularkan oleh arthropoda. Mereka menyerang berjuta-juta manusia dan  tersebar luas diseluruh muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikrobiologi Pangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran  mikroorganisme pada bahan pangan dapat merugikan manusia, tetapi dapat  pula menguntungkan. Kehadiran mikroorganisme pada bahan pangan  senantiasa menyebabkan terjadinya perubahan tekstur, warna, rasa dan  aroma. Perubahan yang terjadi ada yang dikendaki dan ada yang tidak  dikehendaki oleh manusia. Jika perubahan yang terjadi tidak dikehendaki  disebut kontaminan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontaminasi bahan pangan dapat terjadi dari  beberapa sumber, yaitu dari: daerah asal bahan pangan tersebut dipanen  meliputi daerah pertanian, peternakan, tambak; saat panen; dan  pengolahan pasca panen meliputi semua proses pengolahan sampai konsumsi  siap makan. Kehadiran mikroorganisme kontaminan pada bahan pangan  merupakan indikator kualitas bahan pangan. Bahan pangan kualitasnya  dapat dikatakan baik, jika jumlah dan macam mikroorganismenya masih  memenuhi nilai batas maksimum cemaran yang ditetapkan secara nasional  dan internasional. Hal ini berkaitan pula dengan keamanan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan  jika perubahan yang terjadi pada bahan pangan dikehendaki, maka  mikroorganismenya sengaja ditumbuhkan untuk membuat makanan fermentasi.  Fermentasi makanan memanfaatkan kelompok bakteri, kapang atau khamir  yang menghasilkan enzim-enzim amilolitik, proteolitik atau lipolitik.  Enzim-enzim ini bekerja mengubah molekul-molekul kompleks menjadi  molekul-molekul yang lebih sederhana sehingga makanan lebih mudah  dicerna oleh usus manusia. Pengolahan makanan secara fermentasi dapat  meningkatkan nilai gizi makanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikrobiologi  Industri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikrobiologi industri membahas perbanyakan  mikroorganisme dalam jumlah besar, di bawah kondisi terkendali, yang  bertujuan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi dan bermanfaat.  Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mikrobiologi industri adalah  isolasi dan seleksi mikroorganisme; seleksi media yang sesuai dengan  tujuan; sterilisasi semua bagian penting untuk mencegah kontamitasi oleh  mikroba lain; dan evaluasi hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan produk industri  menggunakan jasa mikroorganisme sangat tergantung dari sifat-sifat  mikroorganisme yang dipilih. Mikroorganisme yang dipilih harus memenuhi  kriteria-kriteria: memiliki sifat-sifat yang stabil; mampu tumbuh pesat;  tidak patogenik; memiliki sifat potensial menjamin proses  biotransformasi berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan.  Mikroorganisme yang terpilih ini berupa galur-galur unggul. Sedangkan  penentuan media dan bagian pengendali proses lainnya disesuaikan dengan  spesifikasi sifat mikroorganisme serta enzim-enzimnya. Macam-macam tipe  produk industri dari mikroorganisme antara lain : sel-sel mikroorganisme  itu sendiri sebagai produk .yang dikehendaki; enzim-enzim yang  dihasilkan mikroorganisme; metabolit dari mikroorganisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya  pembahasan mikrobiologi industri meliputi beberapa contoh proses  pembuatan produk industri menggunakan jasa mikroorganisme antara lain  industri minuman beralkohol; industri sirup fruktosa tinggi; produksi  asam amino; produksi asam sitrat; produksi asam glutamat; produksi obat  pengendali hama; produksi antibiotika; produksi vaksin rekombinan. Pada  bagian terakhir disajikan tabel yang menunjukkan berbagai produk, tipe  serta mikroorganisme yang potensial dalam produk industri.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/genetika-dan-pengendalian-mikrobiologi.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-05-25T15:03:00+07:00"&gt;3:03 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=3618163476394667120" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=3618163476394667120" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=3618163476394667120" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-3618163476394667120")); } &lt;/script&gt; &lt;div class="post-outer"&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="3725725511872319823"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/siklus-alami-tubuh-dalam-proses.html"&gt;Siklus  Alami Tubuh dalam proses Pencernaan makanan&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;Berdasarkan penelitian ekstensif tentang siklus fisiologi, ditemukan  bahwa setiap fungsi tubuh memiliki irama aktivitas biologi yang bekerja  secara sistematis dalam siklus atau putaran 24 jam tanpa henti. Proses  pencernaan sendiri terdiri dari tiga siklus yang didasarkan pada tiga  fungsi tubuh, yaitu menyerap (sari-sari makanan), mencerna (zat-zat  makanan), dan membuang (sampah-sampah makanan). Meskipun ketiga fungsi  tersebut bekerja aktif secara simultan (terus-menerus), setiap delapan  jam sehari masing-masing lebih intensif dibandingkan siklus-siklus  lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 12.00 – 20.00 : PENCERNAAN&lt;br /&gt;Pukul 20.00 – 04.00 :  PENYERAPAN&lt;br /&gt;Pukul 04.00 – 12.00 : PEMBUANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus pencernaan  sangat intensif antara pukul 12.00 (tengah hari) dan pukul 20.00 (8  malam). Pada siklus ini energi tubuh lebih banyak dipusatkan ke fungsi  pencernaan. Sepanjang siklus ini merupakan saat yang tepat untuk mengisi  lambung dengan makanan padat. Kalau pada siang hari perut tak terisi,  Anda akan merasa sangat lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus penyerapan berlangsung  sangat intensif antara pukul 20.00 (8 malam) dan pukul 04.00 (dini  hari). Sepanjang siklus ini terjadi proses penyerapan sebagian besar  zat-zat makanan yang sudah tercerna dan pembagian zat-zat makanan ke  seluruh bagian tubuh. Karena itu, tidur terlambat atau makan larut malam  dapat mengurangi pasokan energi yang diperlukan untuk proses  penyerapan. Hambatan pada salah satu siklus dapat mengacaukan  siklus-siklus berikutnya, sehingga Anda akan merasa grogi pada pagi  harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus pembuangan sangat intensif terjadi antara pukul  04.00 (tengah hari) dan pukul 12.00 (tengah hari). Pada siklus ini,  energi akan lebih banyak dipakai untuk membantu proses pembuangan.  Sampah akan lebih banyak dikeluarkan dalam siklus ini. Banyak orang  mengeluh tidak mempunyai nafsu makan pada pagi hari, tapi tidak  menyadari bahwa ini adalah hal sangat alami. Karena tubuh tengah melalui  siklus pembuangan. Tubuh tidak terlalu membutuhkan makanan padat  (misalnya nasi dan daging) yang sulit dicerna dalam kurun waktu  tersebut, malah bisa mengacaukan proses pembuangan karena kekurangan  energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTA SEDERHANA&lt;br /&gt;Dari beberapa fakta alamiah berikut  inilah disusun prinsip-prinsip dasar FC (Food Combining). Tubuh  mempunyai siklus-siklus pencernaan, penyerapan, dan pembuangan yang  berbeda intensitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Ada makanan yang boleh  dikombinasikan dan dimakan bersama, ada pula yang tidak serasi untuk  dikombinasikan.&lt;br /&gt; 2. Setiap makanan butuh waktu pencernaan  berbeda.Hanya dengan memanfaatkan prinsip-prinsip ini, kerja pencernaan  tubuh sudah bisa dijaga agar tetap dalam kondisi maksimal.Sebetulnya  faktanya begitu sederhana. Jika fungsi pencernaan bekerja maksimal,  dengan sendirinya penyerapan zat gizi akan berjalan lancar, dan  pembuangan racun tubuh pun tidak terhambat. Hasilnya, pastilah tidak  bisa lain adalah tubuh yang sehat.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/siklus-alami-tubuh-dalam-proses.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-05-25T15:02:00+07:00"&gt;3:02 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=3725725511872319823" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=3725725511872319823" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=3725725511872319823" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-3725725511872319823")); } &lt;/script&gt; &lt;div class="post-outer"&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="4738138460979123401"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/biologi-sel.html"&gt;Biologi  Sel&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;Sejarah Penemuan Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sel yang ditemukan di abad 17 oleh Robert  Hook ternyata berisi Zalir kental yang merupakan campuran berbagai  macam senyawa. Zalir yang disebut protoplasma ini dibangun dari berbagai  macam senyawa antara lain air, protein, asam nukleat, karbohidrat dan  lipit. Berdasarkan ciri dan sifat setiap komponen penyusun protoplasma,  terutama lipid, segumpal protoplasma tersekat-sekat menjadi beberapa  bentukan yang kemudian disebut organela. Sehingga protoplasma yang  semula dinyatakan sebagai suatu cairan kental yang homogen ternyata  merupakan cairan kental yang berstruktur sangat rumit. Pengertian sel  yang kita ikuti sekarang, bukanlah pengertian sel yang disajikan oleh  Robert Hook ditahun 1667. saat ini terdapat beberapa batasan (definisi)  mengenai sel yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sel adalah segumpal protoplasma yang  berbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sel adalah kesatuan (unit) struktur, fungsi dan  pewarisan yang terkecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian terluar dari gumpalan protoplasma  membentuk lapisan tipis yang merupakan pembatas antara protoplasma  dengan lingkungan tempat beradanya. Selaput tipis itu pulalah yang  menyebabkan protoplasma berbentuk, yang dinyatakan sebagai sel induk.  Struktur morfologi sel induk sebagai berikut : Bagian terluar  protoplasma yang berupa lapisan tipis disebut selaput sel. Bagian  protoplasma yang dikelilingi selaput sel disebut sitoplasma. Sel induk  ini secara bertahap dan pelan-pelan, berubah dan menyesuaikan diri  dengan lingkungannya, untuk dapat melangsungkan hidupnya. Perubahan  struktur ini menimbulkan dua kelompok besar yang sekarang kita kenal  dengan kelompok sel prokaryota dan eukaryota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Umum Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prokaryota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencakup  : Bakteria dan mikroplasma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk : Umumnya bola dan batang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matra  (dimensi) : Berkisar antara 0,01 sampai dengan 2 mikrometer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur  Morfologi : Secara berurutan dari luar ke dalam : dinding sel, selaput  sel yang berlipat-lipat dibeberapa daerah. Lipatan itu disebut mesosoma.  Sitoplasma didalamnya terdapat nukleoid dan ribosoma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan  komponen-komponen penyusun sel prokaryota :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding sel untuk  pelindung : selaput sel untuk mengatur keluar masuknya senyawa. Mesosoma  digunakan untuk mengatur pembelahan, tempat pertukaran gas, oleh karena  itu disebut pula kondroid. Bagi bacteria fotosintetik, mesosoma  merupakan tempat terjadinya fotosintesis. Ribosoma untuk sintesis  protein. Nukleoid merupakan kumpulan bahan informasi genetic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eukaryota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda  dengan kelompok prokaryota, sel-sel eukaryota memiliki nucleus sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencakup  : Sel tumbuhan dan sel hewan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk : Bervariasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matra :  Berkisar antara 6 mikrometer sampai dengan 1 meter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sel tumbuhan,  dari luar ke dalam secara berurutan : dinding sel, selaput sel,  sitoplasma dengan beberapa organela didalamnya. Dua diantara organela  tersebut hanya terdapat di sel tumbuhan saja. Nucleus, vakuola besar,  vakuola kecil-kecil. Sel Hewan, dari luar ke dalam secara berurutan  selaput sel; sitoplasma dengan beberapa organela didalamnya : nucleus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan  Penyusun Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protoplasma yang berupa zalir pertama yang memiliki  tanda-tanda kehidupan ditemukan oleh Purkinye pada tahun 1839. Pada  dasarnya komponen penyusun protoplasma adalah karbon hydrogen, oksigen,  dan nitrogen. Komponen-komponen tersebut membentuk air, protein, asm  nuklead dan nucleoprotein, lipid, dan karbohidrat. Selain unsur-unsur  tersebut, dalam protoplasma, walaupun dalam jumlah sedikit, dijumpai  pula kalsium, kalium, natrium, dan sulfur. Dilihat dari sifat fisiknya,  protoplasma berupa substitusi berwarna kehijauan yang dapat berada pada  dua keadaan yaitu sol dan gel. Protoplasma melakukan gerakan-gerakan  yang tergantung pada ukuran molekul dan tenaga yang ada yaitu gerakan  brown dan amuboid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komponen Penyusun dan Sifat Selaput Plasma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaput  plasma terdiri dari dwilapisan lipid. Padanya terbenam berbagai macam  protein. Dwilapisan lipid ini berupa zalir dengan tiap molekul lipid  mampu dengan cepat berdifusi pada bidang belahannya. Beberapa jenis  molekul lipid dapat melakukan flip-flop dari bidang belahan yang satu ke  yang lain. Molekul lipid selaput bersifat amfipatis, dapat terkait  dengan sendirinya menjadi dwilapisan bila dicampur air. Pada selaput  plasma terdapat tiga kelompok lipid yaitu: fosfolipid, glikolipid, dan  kolesteroll. Pada suatu dwilapisan lipid komposisi lipid di belahan yang  satu berbeda dengan belahan yang lain. Campuran lipid dalam selaput  plasma sangat bervariasi sesuai dengan jenis sel atau keadaan fisiologis  sesuatu sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Selaput Plasma serta Pemulihan dan  Perakitannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dwilapisan lipid merupakan struktur dasar  selaput plasma, maka protein bertanggung jawab untuk hampir semua fungsi  selaput misalnya: berperan sebagai reseptor, enzim, protein pengangkut,  dan lain-lain. Sebagian besar protein-selaput merupakan protein  transmembrean, sebagian lain berkedudukan sebagai protein  semi-transmembran atau perifer. Seperti halnya molekul-molekul lipid,  banyak protein-selaput dapat bergerak di bidangnya. Namun, sel mampu  membantu protein-selaput tidak bergerak. Molekul-molekul protein maupun  lipid selaput sel-sel eukaryota, ada yang pada permukaan nonsitosoliknya  memiliki rantai oligosakharida yang terikat padanya dengan ikatan  kovalen. Peranan rantai sakharida ini belum diketahui dengan pasti.  Diduga mereka berperan dalam proses perlekatan serta pengenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran  Selaput Plasma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwilapisan lipida sangat impermeable terhadap  molekul-molekuk polar. Untuk memungkinkan molekul-molekul terlarut dalam  air melewati selaput plasma, selaput memiliki berbagai macam protein  pengangkut. Setiap molekul bertanggung jawab untuk mengangkut senyawa  terlarut khusus melewati selalut. Terdapat dua kelompok protein  pengangkut yaitu: protein pembawa dan pembentuk celah. Dwilapisan lipida  sangat impermeable terhadap molekul-molekuk polar. Untuk memungkinkan  molekul-molekul terlarut dalam air melewati selaput plasma, selaput  memiliki berbagai macam protein pengangkut. Setiap molekul bertanggung  jawab untuk mengangkut senyawa terlarut khusus melewati selalut.  Terdapat dua kelompok protein pengangkut yaitu: protein pembawa dan  pembentuk celah. Protein pembawa mengikat senyawa terlarut khas dan  memindahkannya melewati dwilapisan lipida dengan jalan mengubah bentuk  diri sehingga tempat pengikat senyawa berpindah dari sisi yang satu ke  sisi yang lain. Beberapa protein pembawa hanya mengangkut senyawa  menaiki derajat konsentrasi dengan jalan mengubah bentuk dengan  menghidrolisis ATP. Protein bercelah atau pembentuk celah memiliki celah  akuosa pada dwilapisan lipida sehingga memungkinkan ion anorganik  dengan ukuran dan muatan tertentu melewati selaput menuruni derajat  elektrokimianya dengan laju paling sedikit seratus kali lebih besar  daripada kecepatan bila melewati protein pengangkut yang lain.  Celah-celah ini “berpintu” dan umumnya pintu terbuka sementara, bila  terjadi perubahan khas pada selaput. Sebagian besar sel mengeluarkan  makromolekul dengan jalan eksositosis dan memasukkannya dengan jalan  endositosis. Pada ekositasis isi vesikuli pengangkut atau vesikuli  sekretoris dilepaskan ke ruang antarsel pada saat visikuli melebur  dengan selaput sel. Pada endositosis urutan kejadian berlangsung  terbalik. Sebagian besar endosoma berakhir pada peleburan dengan  lisosoma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitosol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitosol yang disebut juga hialoplasma,  merupakan bagian sitoplasma yang berada di sela-sela organela  berselaput. Beribu-ribu jenis enzim yang terlibat dalam proses  metabolisme intermedia terlarut di dalamnya. Salah satu contoh  metabolisme intermedia adalah proses glikolisis dan glikoneogenesis.  Selain itu, cairan ini dipenuhi oleh ribosoma, mRNA maupun tRNA, yang  aktif mensintesis protein. Sekitar 50% protein hasil sintesis yang  dilakukan ribosoma, ditentukan tetap berada di dalam sitosol. Sebagian  dari protein yang berada di sitosol, berbentuk benang-benang halus yang  disebut filamen. Filamen-filamen ini teranyam membentuk rerangka, yang  diberi nama rerangka sel atau sitoskelet. Rerangka sel memberi bentuk  pada sel, mengatur dan menimbulkan gerakan sitoplasmik yang beruntun dan  berkaitan, serta membentuk jaring-jaring kerja yang membantu mengatur  reaksi-reaksi enzimatis. Terdapat empat macam filamen penyusun sel.  Filamen pertama sangat halus, teranyam membentuk jejala trimatra. Jejala  ini disebut jejala mikrotrabekula. Tiga kelompok filamen lainnya secara  berurutan adalah mikrotubula, mikrofilamen dan filamen intermedia.  Fileman-filamen ini merupakan protein struktur yang mudah sekali terurai  dan terikat kembali. Mikrotubula terdiri dari monomer tubulin a dan  tubulin b. Dua monomer tersebut membentuk dimer tubulin ab. Sejumlah  tubulin ab terakit menjadi protofilamen. Tigabelas protofilamen,  tersusun paralel satu terhadap yang lain dengan garis tengah sekitar 24  nanometer dengan tabel dinding 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitoskelet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikrofilamen  merupakan protein fibrosa yang bergaris tengah 60 angstrum dan tidak  berongga. Terdapat banyak macam mikrofilamen. Beberapa diantaranya, yang  penting adalah protein-protein kontraktil, yaitu aktin, miosin troponin  dan tropomiosin. Aktin dapat berada dalam bentuk monomer aktin G dan  filament aktin f. Filamen intermedia (FI) berukuran lebih kecil daripada  mikrotubula, tetapi lebih besar daripada mikrofilamen. Diameternya  berkisar antara delapan sampai sepuluh nanomer. FI berongga seperti  mikrotubula Ribosoma terdiri dari bagian (= subunit) yaitu : subunit  kecil dan besar. Senyawa penyusun ribosoma adalah protein dan rRNA. Pada  sel prokaryota ribosomsa memiiki BM 2520 kD dan bermatra 29 x 21  nanometer. Riborsoma sel eukaryota bermatra 32 x 22 nanometer dengan BM  lebih kurang 4220 KD. Ribosoma berperan sangat penting dalam proses  sintesis protein. Pad proses ini Ribosoma berperan sebagai pemandu  katalitik. Ribosoma mengatur dan menentukan supaya kodon (= sandi  genetic) yang terdapat di mRNA dapat tepat berpasangan dengan antikodon  yang terpadat pada tRNA, sehingga penerjemahan tidak meleset. Dalam  proses sintesis protein, subunit kecil mengikat mRNA dan tRNA, sedangkan  subunit besar membantu membentuk ikatan polipeptida. Didalam proses ini  pemegang peran utama sebagai biokatalisator adalah rRNA Proses sintesis  protein yang juga disebut ekspresi gen, diawali oleh beberapa proses  yang di nucleus. Proses-proes tersebut adalah sintesis mRNA, tRNA dan  rRNA, yang lebih dikenal dengan proses penyalinan atau transkripsi.  Selain transkripsi, di nucleus terjadi pula sintesis ribosoma subunit  besar maupun kecil. Setelah senyawa tersebut selesai disintesis mereka  segera dikirim ke sitosol. Disitosol lah terjadinya sintesis protein.  Empat senyawa yang berasal dari nucleus tersebut, masing-masing memegang  peranan penting. mRNA merupakan pembawa sandi genetic yang akan  diterjemahkan; tRNA berperan mengikat asam amino yang sesuai dengan  kodon di mRNA, subunit-subunit ribosoma berperan sebagai pemandu  katalitik untuk meyakinkan bahwa kodon yang terdapat di mRNA tepat  berpasangan dengan antikodon yang ada di tRNA; rRNA memegang peran dalam  kegiatan ribosoma sebagai biokatalisator Proses sintesis protein  terdiri dari tiga tahap yaitu : pemrakarsaan (initiation), pemanjangan  (elogation), dan penghentian (termination). Tiga tahapan ini berlangsung  berkesinambungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Selaput Sitoplasmik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RE merupakan  kumpulan tubulus, vesikuli, dan sakuli yang berada di sitoplasma sel  eukaryota. Selaput RE merupakan selaput yang bersinambung mengelilingi  suatu lumen yang terpisahkan dari sitosol yang mengelilinginya. Terdapat  dua macam RE yaitu: REG dan REA. Permukaan sitosolik selaput REG  ditempeli ribosoma, sedangkan permukaan sitosolik selaput REA tidak  beribosoma. Selaput RE memiliki protein dalam jumlah besar.  Protein-protein tersebut berperan sebagai: enzim, pemilah dan pengangkut  REG dan REA yang berperan pada sebagian besar proses biosintesis.  Kompleks Golgi terdiri dari tumpukan sakuli. Pada selaput sakuli Golgi  tidak dijumpai ribosoma. Setiap sakulus Golgi, disebut sisterna, seperti  pada RE, membengkak dibagian tepi. Di sekeliling sakuli Golgi terdapat  vesikuli dari berbagai ukuran. Kompleks Golgi selalu berdekatan dengan  RE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organela Pembangkit Tenaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitokondria melaksanakan  sebagian besar oksigen sel dan pada sel hewan menghasilkan ATP  terbanyak. Matriks mitkondria berisi beraneka enzim, termasuk piruvat  dehidrogenase. Selain itu juga berisi NADH dan FADH2. Tenaga yang  diperoleh dari bereaksinya oksigen dengan elektron reaktif yang dibawa  NADH dan FADH2 dilengkapi dengan rantai pengangkut elektron yang  terdapat di selaput dalam mitokondria. Rantai ini disebut rantai  respirasi. Rantai ini memompa proton keluar dari matriks mitokondria.  Untuk membentuk derajat proton elektrokimia di sebelah menyebelah  selaput. Perbedaan kadar H+ ini digunakan untuk mensintesis ATP dan  memacu pengangkut metabolit terpilih melewati selaput dalam mitokondria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selubung  Nukleus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nukleus dikelilingi oleh selaput rangkap yang disebut  selubung nukleus. Pada selubung nukleus terdapat pori yang memungkinkan  ion-ion dan molekul-molekul mikro lewat dengan leluasa. Selain ini,  selubung nukleus juga mengatur pengangkutan protein dan ribonukleo  protein. Sifat pemilah selubung nukleus memungkinkan beberapa molekul  besar ulang alik dari nukleus ke sitosol. Selubung nukleus juga menjaga  beberapa enzim yang khas untuk neukleus atau sitosol tetap berada di  tempat masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Pembawa Warisan dan Matriks Nukleus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DNA,  protein histon, dan non-histon merupakan sebagian besar molekul yang  berada di dalam nukleus sel eukaryota. Tiga elemen ini membentuk serabut  kromatin di dalam nukleus. Lima buah histon bersama dengan DNA berperan  sebagai protein struktur. Empat di antaranya, H2A; H2B; H3 dan H4,  membentuk arah pusat nukleosoma yang merupakan kesatuan struktural dasar  dari kromatin. Histon ke lima, H1, mengikat DNA ke nukleosoma. Protein  non-histon mengatur kegiatan gen, berperan pada proses penggandaan dan  penyalinan. Kromatin terbagi menjadi eukromatin dan heterokromatin.  Eukromatin teranyam longgar dan aktif pada RNA membentuk nukleolus.  Heterokromatin teranyam rapat sehingga tidak aktif dalam proses  penyalinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelahan Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang terjadi dari  satu pembelahan sel ke pembelahan berikutnya disebut daur (siklus) sel.  Daur ini mencakup pembelahan sel, yang terdiri dua tahap, yaitu  karyokinesis (mitosis) dan sitokenesis, serta interfase yang mencakup  G1, S, dan G2. Pada G1 terjadi penyalinan DNA dan penerjemahan. Sel  anakan tumbuh menjadi dewasa. Pada S berlangsung penggandaan DNA dan  pada G2 berlangsung perakitan kromosoma yang berakhir pada profase.  Karyokinesis terdiri empat tahap, yaitu: Profase, metafase, anafase, dan  tolefase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Mes Hewan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolagen dan proteoglikan  membentuk jaring-jaring yang terdiri dari berbagai macam serabut.  Jaring-jaring ini dikaitkan ke permukaan sel lewat reseptor atau dengan  perantara fibronektin, laminin, dan molekul-molekul penghubung lainnya.  Banyak reseptor permukaan, dari kelompok intergrin mengikatkan MES ke  rerangka sel di dalam sitoplasma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Mes Tumbuhan Dinding  Sel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding sel melindungi dan mengikat sel-sel menjadi satu di  dalam tubuh tumbuhan, memberi bentuk tetap pada sel tumbuhan, menahan  kekuatan dalam yang terbentuk akibat osmosis, dan melindungi sel dari  infeksi. Serabut pertama dinding sel adalah selulosa; pektin,  hemiselulosa, dan ekstensin merupakan molekul-molekul jaring-jaring  primer. Meskipun sel tumbuhan dikelilingi dinding, mereka mampu membesar  dan tumbuh, melalui proses yang memungkinkan komponen dinding sel,  terutama selulosa, memanjang dan melebar dengan leluasa. Serabut  selulosa baru dibentuk oleh enzim-enzim yang terdapat di selaput sel,  dan kedudukannya ditentukan oleh mikrotubulus yang berada di sitoplasma.  Plasmodesmata tetap berada di dinding sel sebagai tempat hubungan  sitoplasma antar sel yang berdampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding Sel Pada  Prokayota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua sel prokaryota, kecuali mycoplasma memiliki  dinding sel. Pada bakteri struktur dinding sel di bedakan antara bakteri  gram positif dan bakteri gram negatif. Pembangunan dinding sel  prokaryota terdiri dari komponen molekular:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peptidoglikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  bakteri disebut murein, mucopeptid atau glikopeptid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Asam  teiochoat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lipopolisakharida&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/biologi-sel.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-05-25T15:01:00+07:00"&gt;3:01 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=4738138460979123401" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=4738138460979123401" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=4738138460979123401" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-4738138460979123401")); } &lt;/script&gt; &lt;div class="post-outer"&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="5629520953567822973"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/hormon.html"&gt;Hormon&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;Hormon (dari bahasa Yunani, όρμή: horman - "yang menggerakkan")  adalah pembawa pesan kimiawi antarsel atau antarkelompok sel. Semua  organisme multiselular, termasuk tumbuhan (lihat artikel hormon  tumbuhan), memproduksi hormon. Hormon berfungsi untuk memberikan sinyal  ke sel target yang selanjutnya akan melakukan suatu tindakan atau  aktivitas tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan yang dilakukan karena pesan hormon  sangat bervariasi, termasuk di antaranya adalah perangsangan atau  penghambatan pertumbuhan serta apoptosis (kematian sel terprogram),  pengaktifan atau penonaktifan sistem kekebalan, pengaturan metabolisme  dan persiapan aktivitas baru (misalnya terbang, kawin, dan perawatan  anak), atau fase kehidupan (misalnya pubertas dan menopause). Pada  banyak kasus, satu hormon dapat mengatur produksi dan pelepasan hormon  lainnya. Hormon juga mengatur siklus reproduksi pada hampir semua  organisme multiselular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hewan, hormon yang paling dikenal  adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar endokrin vertebrata.  Walaupun demikian, hormon dihasilkan oleh hampir semua sistem organ dan  jenis jaringan pada tubuh hewan. Molekul hormon dilepaskan langsung ke  aliran darah, walaupun ada juga jenis hormon - yang disebut ektohormon  (ectohormone) - yang tidak langsung dialirkan ke aliran darah, melainkan  melalui sirkulasi atau difusi ke sel target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya  pengaturan produksi hormon dilakukan oleh hipotalamus (bagian dari  otak). Hipotalamus mengontrol sekresi banyak kelenjar yang lain,  terutama melalui kelenjar pituitari, yang juga mengontrol  kelenjar-kelenjar lain. Hipotalamus akan memerintahkan kelenjar  pituitari untu mensekresikan hormonnya dengan mengirim faktor regulasi  ke lobus anteriornya dan mengirim impuls saraf ke posteriornya dan  mengirim impuls saraf ke lobus posteriornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tumbuhan,  hormon dihasilkan terutama pada bagian tumbuhan yang sel-selnya masih  aktif membelah diri (pucuk batang/cabang atau ujung akar) atau dalam  tahap perkembangan pesat (buah yang sedang dalam proses pemasakan).  Transfer hormon dari satu bagian ke bagian lain dilakukan melalui sistem  pembuluh (xilem dan floem) atau transfer antarsel. Tumbuhan tidak  memiliki kelenjar tertentu yang menghasilkan hormon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor  Regulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor regulasi adalah senyawa kimia yang mengontrol  produksi sejumlah hormon yang memiliki fungsi penting bagi tubuh.  Senyawa tersebut dikirim ke lobus anterior kelenjar pituitari oleh  hipotalamus. Terdapat 2 faktor regulasi, yaitu faktor pelepas (releasing  factor) yang menyebabkan kelenjar pituitari mensekresikan hormon  tertentu dan faktor penghambat (inhibiting factor) yang dapat  menghentikan sekresi hormon tersebut. Sebagai contoh adalah FSHRF  (faktor pelepas FSH) dan LHRF (faktor pelepas LH) yang menyebabkan  dilepaskannya hormon FSH dan LH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormon Antagonistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormon  antagonistik merupakan hormon yang menyebabkan efek yang berlawanan,  contohnya glukagon dan insulin. Saat kadar gula darah sangat turun,  pankreas akan memproduksi glukagon untuk meningkatkannya lagi. Kadar  glukosa yang tinggi menyebabkan pankreas memproduksi insulin untuk  menurunkan kadar glukosa tersebut&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/hormon.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-05-25T14:58:00+07:00"&gt;2:58 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=5629520953567822973" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=5629520953567822973" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=5629520953567822973" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-5629520953567822973")); } &lt;/script&gt; &lt;div class="post-outer"&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="1835104024247993761"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/enzim.html"&gt;Enzim&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p&gt;Enzim adalah satu atau beberapa gugus polipeptida (protein) yang  berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa  habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia. Enzim bekerja dengan cara  menempel pada permukaan molekul zat-zat yang bereaksi dan dengan  demikian mempercepat proses reaksi. Percepatan terjadi karena enzim  menurunkan energi pengaktifan yang dengan sendirinya akan mempermudah  terjadinya reaksi. Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang  artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa  atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur kimia tiap  enzim yang bersifat tetap. Sebagai contoh, enzim α-amilase hanya dapat  digunakan pada proses perombakan pati menjadi glukosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-ihwal  yang berkaitan dengan enzim dipelajari dalam enzimologi. Dalam dunia  pendidikan tinggi, enzimologi tidak dipelajari tersendiri sebagai satu  jurusan tersendiri tetapi sejumlah program studi memberikan mata kuliah  ini. Enzimologi terutama dipelajari dalam kedokteran, ilmu pangan,  teknologi pengolahan pangan, dan cabang-cabang ilmu pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja  enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama adalah substrat, suhu,  keasaman, kofaktor dan inhibitor. Tiap enzim memerlukan suhu dan pH  (tingkat keasaman) optimum yang berbeda-beda karena enzim adalah  protein, yang dapat mengalami perubahan bentuk jika suhu dan keasaman  berubah. Di luar suhu atau pH yang sesuai, enzim tidak dapat bekerja  secara optimal atau strukturnya akan mengalami kerusakan. Hal ini akan  menyebabkan enzim kehilangan fungsinya sama sekali. Kerja enzim juga  dipengaruhi oleh kofaktor dan inhibitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, enzim adalah  senyawa yang umum digunakan dalam proses produksi. Enzim yang digunakan  pada umumnya berasal dari enzim yang diisolasi dari bakteri. Penggunaan  enzim dalam proses produksi dapat meningkatkan efisiensi yang kemudian  akan meningkatkan jumlah produksi.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; Posted by &lt;span class="fn"&gt;Lena Lestiany&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/enzim.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-05-25T14:57:00+07:00"&gt;2:57 PM&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=1835104024247993761" onclick=""&gt;0 comments&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=1835104024247993761" title="Email Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-241669792"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8079448183053809800&amp;amp;postID=1835104024247993761" title="Edit Post"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" height="18" width="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt;&lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-1835104024247993761")); } &lt;/script&gt;   &lt;a name="7524300228595090643"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://lena-unindrabio2a.blogspot.com/2009/05/sejarah-perkembangan-hidrobiologi-dan.html"&gt;Sejarah  Perkembangan Hidrobiologi dan Ruang Lingkupnya&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;p&gt;1. Hidrobiologi mempelajari semua yang hidup di air. Dengan perkataan  lain hidrobiologi adalah bagian dari ilmu biologi yang harus  memperhatikan organisme di air, sehingga dikatakan sebagai biologi  perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Objek yang dipelajari dalam hidrobiologi adalah  segala aspek biologi dari kehidupan organisme di air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Organisme air yang dimaksudkan dalam hidrobiologi adalah semua makhluk  hidup yang hidup di perairan tawar, payau maupun asin, dari tingkat yang  paling rendah sampai yang paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Indonesia sebagai  negara kepulauan memiliki sumber daya perairan laut dan pesisir yang  sangat luas, di samping memiliki perairan darat yang cukup banyak pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Dengan sumber daya perairan yang luas maka Indonesia memiliki potensi  sumber daya hayati yang banyak. Sementara pengelolaan sumber daya  perairan yang ada di Indonesia belum optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sebagai bagian  dari komponen perairan maka untuk mempelajari hidrobiologi tidak dapat  lepas dari ekologi perairan, yaitu suatu cabang ilmu pengetahuan yang  mempelajari kaitan antara organisme dengan lingkungan perairan di mana  organisme tersebut hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Perkembangan hidrobiologi diawali  dengan ditemukannya mikroskop dan plankton net.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Plankton  merupakan organisme yang melayang-layang dalam air dan mudah terbawa  oleh arus air. Organisme ini penting dalam pola rantai makanan di  perairan, khususnya phytoplankton yang menjadi primer produser yang  paling berperan di perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Banyak badan-badan perairan di  Indonesia yang masih memungkinkan untuk ditingkatkan potensi sumber daya  hayatinya. Namun di lain pihak banyak badan perairan rusak karena  pemanfaatan yang tidak mengindahkan kaidah kelestarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok  Organisme Perairan dan Habitat Akuatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Organisme di perairan  dapat diklasifikasikan berdasarkan kedudukannya dalam rantai makanan,  berdasarkan cara kehidupannya dan berdasarkan daerah (sub habitat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Organisme yang ada di perairan terdiri dari kelompok-kelompok Bakteri,  Algae, Tumbuhan tingkat tinggi, dan Hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bakteri yang ada di  perairan di jumpai ada yang hidup di dasar lumpur, di tanaman, hewan  dan detritus. Ada yang obligat aerobics, fakultatif dan ada yang  autotrophik, khemosynthetik dan kebanyakan heterotrophik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Sebagian besar dari phytoplankton yang mendiami perairan tersusun dari  beberapa jenis algae yaitu antara lain: Cyanophyta, Chlorophyta,  Chrysophyta, Euglenophyta dan Pyrrophyta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tumbuh-tumbuhan  tingkat tinggi yang hidup di perairan digolong-golongkan menurut cara  hidupnya menjadi: a. Tumbuh-tumbuhan yang muncul di atas permukaan air,  b. Tumbuh-tumbuhan berdaun terapung berakar di dasar, c. Tumbuh-tumbuhan  kadang berakar di dasar, kadang dalam air dan daunnya muncul di atas  air, d. Tumbuh-tumbuhan daunnya terapung dan akar tenggelam dalam air,  e. Tumbuh-tumbuhan yang terbenam seluruhnya dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Hewan-hewan di perairan dikelompokan dalam: a. Protozoa, b.  Coelenterata, c. Rotifera, d. Annelida, e. Arthropoda, f. Mollusca, g.  Echinodermata, h. Vertebrata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Suatu pendekatan yang dapat  dilakukan untuk membicarakan lautan yang begitu luas dan organismenya,  adalah dengan menentukan perwilayahan di lingkungan lautan baik secara  vertikal maupun horizontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Danau merupakan perairan  menggenang dan dapat dikatakan sebagai badan perairan yang semi tertutup  yang dilingkupi oleh daratan. Dibagi menjadi dua bagian utama yaitu  daerah limnetik dan daerah benthik. Daerah limnetik terdiri atas daerah  eufotik dan afotik. Sedangkan daerah benthik terdiri dari daerah litoral  dan profundal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pergerakan air satu arah merupakan ciri suatu  sungai. Secara umum terdapat tiga kondisi yang membedakan sungai dari  danau yaitu adanya arus, pertukaran tanah dan air yang relatif lebih  intensif dan oksigen yang lebih seragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Estuaria merupakan  wilayah peralihan antara habitat air tawar dengan habitat laut. Namun  sebagian besar dari sifat-sifat biologi dan fisik estuaria bukan  merupakan sifat-sifat peralihan antara air tawar dengan laut, tetapi  merupakan sifat-sifat unik dengan diversifikasi spesies yang rendah dan  kepadatan populasi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI  ORGANISME PERAIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Lingkungan Fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Air suling  pada 4oC mempunyai berat jenis maksimum, yaitu sama dengan 1 (satu).  Perbedaan berat jenis dapat disebabkan oleh perbedaan tekanan,  bahan-bahan tersuspensi, suhu dan kadar garam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kekeruhan  merupakan akibat dari tahanan gesekan yang ditimbulkan oleh suatu zat  cair pada benda-benda yang bergerak. Pada suhu OoC, kekentalan air murni  adalah terbesar dan dinyatakan dengan angka 100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pada  molekul-molekul yang berdekatan dengan permukaan hanya ada daya tarik  menarik yang menuju ke dalam cairan dan menuju ke samping. Daya ini  menyebabkan tegangan di lapisan permukaan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Cahaya matahari  diperlukan oleh organisme fototrof untuk proses fotosintesa. Cahaya  yang jatuh pada permukaan terdiri dari cahaya matahari langsung dan  cahaya yang dilenturkan dari langit. Cahaya yang jatuh pada permukaan  air akan dipantulkan dan diteruskan ke dalam air. Cahaya yang menembus  permukaan akan didispersikan dan diabsorbsi, yang diabsorbsi berubah  menjadi panas. Kecerahan di suatu perairan menunjukkan cahaya yang  diteruskan dan dinyatakan dalam %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Suhu merupakan faktor  intensitas dari energi panas. Air termasuk salah satu zat yang mempunyai  panas jenis yang tinggi yaitu sama dengan satu. Cahaya matahari yang  masuk permukaan diserap secara eksponensial, namun tidak demikian  penyebaran suhu. Penurunan suhu dapat terjadi tiba-tiba pada kedalaman  tertentu, sehingga timbul perlapisan suhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kekeruhan ialah  suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan derajat kegelapan di dalam  air, yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan yang  tinggi berpengaruh merugikan bagi organisme fototrof yang memerlukan  cahaya untuk proses fotosintesis. Demikian pula partikel-partikel yang  membentuk kekeruhan akan menyerap panas, sehingga suhu perairan  meningkat. Naiknya suhu air akan berpengaruh terhadap proses fisiologis  organisme akuatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pergerakan air dapat terjadi oleh pengaruh  dari angin, perbedaan suhu, perbedaan berat jenis dan gravitasi.  Gerakan-gerakan air dapat mengakibatkan sirkulasi panas, zat-zat  terlarut dan organisme-organisme di perairan. Bentuk-bentuk utama dari  gerakan air ialah arus. Sistem arus terdiri dari sistem arus yang tidak  periodik dan sistem arus yang periodik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Lingkungan kimia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Oksigen di perairan dibutuhkan untuk respirasi tumbuh-tumbuhan dan  hewan-hewan, proses dekomposisi bahan-bahan organik oleh bakteri serta  proses oksidasi bahan buangan. Oksigen terlarut dapat berasal dari udara  dan dari hasil fotosintesa. Kandungan oksigen terlarut dalam air  tergantung pada suhu air, tekanan atmosfer, garam-garam terlarut, dan  aktivitas biologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Karbon dioksida di perairan dibutuhkan  untuk fotosintesa tumbuhan air. Sumber karbon dioksida yang utama ialah  dari proses pembongkaran bahan-bahan organik dan proses pernafasan  organisme-organisme di perairan. Gas karbon dioksida juga dapat  diabsorbsi dari udara. Karbon dioksida di air berupa karbon dioksida  bebas, asam karbonat dan asam bikarbonat, yang cenderung berada dalam  keseimbangan yang akan mempengaruhi pH perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gas metan di  perairan berasal dari perombakan hidrat arang dari bahan organik yang  umum terjadi di dasar perairan. Gas metan merupakan gas yang dapat  mereduksi sehingga mengurangi oksigen di perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Di  perairan, belerang umumnya berada dalam bentuk ion sulfat selain itu  juga berada dalam bentuk sulfida. Sulfat diperlukan oleh organisme  tumbuhan dalam metabolisme protein bagi pertumbuhannya. Dalam keadaan  anaerob, sulfat akan direduksi menjadi hidrogen sulfida yang toksik  terhadap ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Nitrogen merupakan salah satu unsur utama  pembentuk protein. Nitrogen dapat berada dalam bentuk gas N2 yang segera  berubah menjadi senyawa nitrit, nitrat, amonium, dan amonia. Nitrogen  diserap oleh organisme nabati dalam bentuk nitrat yang kemudian diolah  menjadi protein. Amonia dan amonium merupakan hasil akhir perombakan  protein dalam keadaan anaerob. Amonia dan amonium toksik bagi ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Persenyawaan fosfor dalam air berasal dari pelapukan batuan fosfat  serta dari tanah sebagai fosfat yang larut dan dari organisme-organisme  yang telah mati. Di perairan unsur fosfor terdapat dalam persenyawaan  fosfat yang berada dalam bentuk anorganik (orto, meta dan polifosfat)  dan organik, misalnya dalam tubuh organisme. Fosfat diserap oleh  organisme nabati dalam bentuk ortofosfat. Fosfat diikat tanah dan tidak  mudah tercuci air hujan. Namun fosfor dapat memasuki sistem akuatik  lewat kikisan tanah atau erosi. Fosfor juga dapat berasal dari kegiatan  pertanian dan domestik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Bahan organik di ekosistem akuatik  terdiri dari persenyawaan organik terlarut dan partikel-partikel  organik. Kebanyakan bahan organik merupakan bentuk detritus yang berasal  dari organisme yang mati. Sebagian bahan organik dimanfaatkan langsung  oleh organisme hewan. Bahan organik lainnya diuraikan lebih lanjut oleh  bakteri-bakteri menjadi mineral-mineral yang akan dimanfaatkan oleh  organisme tumbuh-tumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisme di Perairan Menggenang  (Lentic)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perairan menggenang (lentik) adalah suatu bentuk  ekosistem perairan yang di dalamnya aliran atau arus air tidak memegang  peranan penting. Hal ini karena aliran air tidak begitu besar atau tidak  mempengaruhi kehidupan organisme yang ada di dalamnya. Pada perairan  ini faktor yang amat penting diperhatikan adalah pembagian wilayah air  secara vertikal yang memiliki perbedaan sifat untuk tiap lapisannya,  contoh dan jenis perairan ini adalah danau, rawa, situ, kolam dan  perairan menggenang lainnya. Perairan menggenang di bagi dalam tiga  lapisan utama yang didasari oleh ada tidaknya penetrasi cahaya matahari  dan tumbuhan air, yaitu: Littoral, limnetik dan profundal, sedangkan  atas dasar perbedaan temperatur perairannya, perairan menggenang dibagi  menjadi 3 kelompok yaitu: metalimnion, epilimnion, dan hipolimnion.  Kelompok organisme di perairan menggenang berdasarkan niche utama dalam  kedudukan rantai makanan meliputi produser (autotrof), makro konsumer  (heterotrof) dan mikrokonsumer (dekomposer). Kelompok organisme yang ada  di perairan menggenang berdasarkan cara hidupnya meliputi: benthos,  plankton, perifiton, nekton dan neuston.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Distribusi Organisme di  Perairan Menggenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zona litoral, produser utamanya adalah  tanaman yang berakar (anggota spermatophyta) dan tanaman yang tidak  berakar (fitoplankton, ganggang dan tanaman hijau yang mengapung).  Sedangkan konsumernya meliputi beberapa larva serangga air seperti,  platyhelminthes, rotifer, oligochaeta, moluska, amphibi, ikan, penyu,  ular dan lain sebagainya. Pada zone limnetik, produsernya terutama  fitoplankton dan tumbuhan air yang terapung bebas seperti, water  hyacinth (Eichornia crassipes), Cerratophyllum spp, Utricularia spp,  Hydrilla verticillata, duckweed (Lemna spp); dan vascular plants,  seperti: Equisetum spp; Ioetes spp dan Azolla spp. Sedangkan konsumernya  meliputi zooplankton dari copepoda, rotifera dan beberapa jenis ikan.  Pada zona profundal, banyak dihuni oleh jenis-jenis bakteri dan fungi,  cacing darah, yang meliputi larva chironomidae, dan annelida yang banyak  mengandung haemoglobin, jenis-jenis kerang kecil seperti anggota famili  sphaeridae dan larva “phantom” atau Chaoboras (corethra). Rantai  makanan adalah suatu transfer energi dari tumbuhan melalui serangkaian  organisme dengan jalan makan-memakan. Pada tiap transfer ada 80-90%  energi potensial yang hilang sebagai panas. Oleh karena itu rantai  makanan dalam satu deretan jumlahnya terbatas, biasanya 4 - 5 tingkat.  Makin pendek rantai makanan, maka lebih banyak tersedia energi yang  dapat dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eutrofikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Eutrofikasi merupakan  penggambaran pengaruh biologi dari adanya peningkatan konsentrasi  nutrien tanaman, umumnya nitrogen dan fosfor, tetapi juga ditemukan  unsur lain seperti Si, K, Ca, Fe, atau Mn di ekosistem akuatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Pada dasarnya pengaruh eutrofikasi terhadap kehidupan organisme  perairan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu : Pengaruh  langsung, terjadi pada organisme terutama planktonik algae yang  pertumbuhanya tidak dipengaruhi oleh keberadaan nutrien. Pengaruh tidak  langsung, terjadi pada saat terlepasnya populasi yang berada di bawah  penghambatan sumber makanan. Sebagai akibatnya kecepatan pertumbuhan dan  jumlah populasinya akan meningkat, sehingga akan terjadi kompetisi  antara satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Perairan Mengalir (Lotic)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Perairan mengalir (lotic) adalah suatu bentuk ekosistem perairan,  dimana yang memegang peranan penting dan menjadi ciri khasnya ialah  adanya aliran air yang menuju ke satu jurusan dan penambahan air baru  dari satu jurusan yang lebih tinggi tempatnya. Disini kecepatan arus  merupakan faktor yang penting sebagai faktor pengendali dan pembatas  utama, karena sangat mempengaruhi kehidupan organisme yang ada di  dalamnya. Disamping itu perairan mengalir bersifat relatif lebih  intensif, sehingga ekosistem perairan mengalir bersifat lebih terbuka  dan kandungan oksigen terlarutnya relatif tinggi, karena luas permukaan  yang berhubungan dengan udara lebih luas dan pergerakan air terus  menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perairan mengalir terbagi ke dalam tiga wilayah atas  dasar keberadaan di atas permukaan air laut, yaitu wilayah hulu, hilir,  dan muara. Adapun klasifikasi perairan mengalir atas dasar mintakatnya,  yaitu mintakat lubuk dan mintakat riam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Organisme di  Perairan Mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bentuk kehidupan tumbuhan yang terdapat pada  perairan mengalir ada dua tipe, yaitu makrofita dan mikrofita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Adaptasi struktural dari tumbuhan air dapat berupa pengurangan jaringan  kayu, tangkai yang tipis dan ringan, daun seperti benang, pembentukan  organ khusus, produksi turion, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Adaptasi  struktural dari algae pada perairan mengalir dengan cara melekatkan diri  pada suatu substrat, bergerombol, dan lainnya. Hal ini dilakukan untuk  mempertahankan diri pada arus yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kelompok algae yang  terdapat pada perairan mengalir adalah Cyanophyceae, Chlorophyceae,  Pyrrophyceae, Bacillariophyceae, dan Euglenophyceae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kelompok  dekomposer yang terdapat pada perairan mengalir adalah fungi dan  bakteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kelompok hewan invertebrata yang terdapat pada  perairan mengalir adalah Crustacea, Protozoa, Rotifera, Oligochaeta,  Insekta, Moluska, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Adaptasi struktural dari hewan  invertebrata pada perairan mengalir dengan cara bertaut secara permanen  pada suatu substrat, bantuan alat kait atau pelekat, bentuk tubuh yang  sesuai dengan habitat, bentuk tubuh yang pipih, bersifat rheotaksis  positif, dan thigmotaksis positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Adaptasi struktural dari  hewan invertebrata pada perairan mengalir dengan cara mereduksi atau  mengurangi fungsi kaki dan alat untuk melekatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Contoh  dari kelompok Protozoa yang mudah berubah bentuk adalah Amoeba sp., dan  lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Contoh dari kelompok Pisces yang terdapat pada  perairan yang mengalir adalah Lepidocephalus spectrum, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Distribusi  Organisme di Perairan Mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Distribusi organisme di perairan  menggenang adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Distribusi kelompok  makrofita pada perairan mengalir, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. yang akarnya masuk ke  dalam substrat, seperti Nitella sp., Myriophylum sp.;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. dengan  adaptasi spesial, seperti Nuphar luteum;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. yang tahan hidup pada  habitat berkecepatan arus &gt; 60 cm/dt, seperti Fontinalis  antipyretica, dan Platyhypnidium rusciforme;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. yang hidup pada  habitat berkecepatan arus antara 25 - 60 cm/dt, seperti Ranunculus  fluitans, dan Sium erectum;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. yang hidup pada habitat  berkecepatan arus antara 10 - 25 cm/dt, seperti Potamogeton nitens, dan  Sparganium simplex; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. yang hidup pada habitat berkecepatan  arus &lt;&gt; 1,0 m/dt ditemukan jenis Ranunculus  sp., Oenanthe sp., Fontinalis sp., Apium sp., Sparganium sp.,  Chladophora sp., dan Hildenbrandia sp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Distribusi algae pada  perairan mengalir erat kaitannya dengan sifat hidupnya, dimana ada yang  hidup sebagai plankton, bentik, dan perifiton. Keberadaan untuk algae  yang hidup sebagai bentik sangat tergantung dari tipe substrat sebagai  tempat melekat, sedangkan untuk yang hidup sebagai perifiton sangat  tergantung pada jenis media sebagai tempat melekat. Sementara untuk  algae yang hidup sebagai plankton sangat tergantung kecepatan arus,  dimana secara umum populasinya lebih banyak pada mintakat lubuk atau  daerah sungai yang berarus lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hubungan keberadaan jenis  algae yang hidup sebagai bentik dengan kecepatan arus, yaitu antara lain  terlihat bahwa pada pada kecepatan arus antara 0,2 - 1,0 m/dt ditemukan  jenis, seperti Nitzschia sp., Navicula sp., Tabellaria sp.,  Oscillatoria sp., Bulbocaete sp., Eunotia sp., Caloneis sp., Synedra  sp., Oedogonium sp., sedangkan pada kecepatan arus &gt; 1,0 m/dt  ditemukan jenis, seperti Achnanthes sp., Diatoma sp., Meridio sp.,  Ceratoneis sp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Contoh algae yang hidup sebagai plankton pada  perairan mengalir dari kelompok Chlorophyta (Chladophora sp. dan  Spyrogyra sp.), Cyanophyta (Anabaena sp. dan Oscillatoria sp.),  Bacillariophyta (Navicula sp. dan Surirella sp.), Pyrrophyta (Noctiluca  sp. dan Peridinium sp.) dan Euglenophyta (Euglena sp. dan Phacus sp.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Contoh algae yang hidup sebagai perifiton pada perairan mengalir dari  kelompok Chlorophyta (Scenedesmus sp. dan Rivularia sp.), Cyanophyta  (Spirulina sp. dan Oscillatoria sp.), dan Bacillariophyta (Achnanthes  sp. dan Synedra sp.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Contoh konsumer yang hidup sebagai  plankton pada perairan mengalir dari kelompok Crustacea (Daphnia sp. dan  Chidorus sp.,), dan insekta (Caenis latipennis, Hexagenia occulata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.  Contoh konsumer yang hidup sebagai benthos pada perairan mengalir dari  kelompok moluska (Lymnaea sp. dan Tarebia sp.,), dan insekta (Caenis  sp., Simulium sp.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Contoh jenis ikan yang hidup sebagai  nekton pada perairan mengalir di mintakat lubuk (Clarias batrachus dan  Glossogobius giuris), dan mintakat riam (Sicgosterus cyanocephalus dan  Glyptothorax platypogon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Contoh jenis insekta yang hidup  sebagai neuston pada perairan mengalir adalah Gerris sp. dan Gyrinus  sp.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber-sumber Pencemaran di dalam Perairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sumber  utama pencemaran di lingkungan perairan, yaitu limbah industri, limbah  pertanian dan limbah domestik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Limbah industri mempunyai  kapasitas dan kuantitas limbah yang berbeda-beda untuk setiap jenis  industri. Hal ini sesuai dengan kapasitas produksi, bahan-bahan yang  digunakan dalam proses produksi dan efisiensi teknologi pengolahan  limbah yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Limbah industri pada umumnya bersifat  lebih toksik daripada jenis limbah lainnya, terutama limbah industri  logam, industri minyak, industri pertambangan, industri zat warna, dan  lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Limbah pertanian pada umumnya bersifat biodegradasi,  kecuali untuk limbah pestisida yang sintetik dan relatif bersifat  toksik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Limbah domestik pada umumnya bersifat lebih  biodegradasi dibandingkan dengan jenis limbah lainnya dan dicirikan oleh  kandungan BOD yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Pencemaran terhadap  Organisme Perairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh dari beberapa senyawa atau unsur  kimia yang terkandung dalam suatu limbah terhadap kehidupan organisme  perairan (algae, invertebrata, dan ikan) adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Pengaruh tersebut sangat bervariasi untuk setiap jenis limbah industri.  Namun pada umumnya toksisitas limbah yang paling kronis bagi kehidupan  organisme perairan adalah limbah industri logam, industri kimia,  industri pertambangan, industri elektronik, industri tekstil dan  industri kulit. Toksisitas limbah akan semakin tinggi pada organisme  yang lebih muda dan juga semakin kuat dengan kehadiran suatu senyawa  atau unsur tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengaruh limbah pertanian terhadap  kehidupan organisme perairan juga sangat bervariasi untuk setiap jenis  limbahnya. Pada umumnya toksisitas limbah yang paling kronis bagi  organisme perairan adalah pestisida, terutama insektisida (golongan  organofosfat dan chlorinated hidrokarbon, seperti DDT, thiodan, endrin,  BHC dan lainnya), fungisida dan herbisida. Pengaruh limbah akan semakin  tinggi pada organisme yang lebih muda dan kehadiran suatu senyawa atau  unsur tertentu akan memperkuat sifat toksiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengaruh  limbah domestik terhadap kehidupan organisme perairan juga sangat  bervariasi. Umumnya toksisitas kronis bagi organisme perairan apabila  bahan organik limbah tinggi, yaitu melampaui daya assimilasi perairan,  sehingga tercipta kondisi yang anaerob. Pengaruhnya semakin sensitif  bagi organisme yang lebih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisme sebagai Indikator  Perairan Tercemar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Organisme dapat digunakan sebagai indikator  lingkungan karena kehidupan organisme mempunyai daya tahan dan adaptasi  yang berbeda-beda antara jenis yang satu dan jenis lainnya. Diantaranya  ada beberapa jenis yang tahan dan ada yang tidak tahan terhadap kondisi  lingkungan, sehingga jenis-jenis yang mempunyai toleransi tinggi  meningkat populasinya. Adanya toleransi menyebabkan adanya kehadiran dan  ketidakhadiran organisme, yang dapat digunakan sebagai petunjuk  kualitas lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Indikator perairan adalah organisme yang  menunjukkan keadaan atau kondisi lingkungan dari perairan yang  bersangkutan. Konsep dari indikator tidak hanya menjelaskan mengenai  masalah kehadiran atau ketidakhadiran suatu spesies organisme saja,  tetapi juga menyangkut masalah struktur populasi dan tingkah lakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Penggunaan organisme sebagai indikator perairan yang tercemar mempunyai  beberapa keuntungan, yaitu (a) memberikan informasi yang relevan dari  kondisi kualitas air yang ada dan dapat dilakukan dengan cara yang mudah  dan waktu yang relatif singkat; (b) memberikan gambaran tentang self  purification dalam keadaan anaerobik atau aerobik dan dapat mengetahui  adanya efek yang toksik terhadap struktur organisme yang ada; (c)  memberikan informasi penting, tidak hanya mengenai pencemaran yang  ditimbulkan oleh limbah pada suatu perairan, tetapi juga melengkapi  faktor khusus, yaitu berubahnya struktur kehidupan organisme sebagai  akibat dari adanya berbagai organisme di perairan tersebut; dan (d)  memberikan gambaran umum keadaan kualitas air dalam jangka waktu yang  relatif panjang atau lama, meskipun terjadi perubahan yang berlangsung  secara periodik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Penilaian kualitas air suatu perairan dapat  dilakukan berdasarkan kehadiran suatu spesies tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber  dan Sirkulasi Bahan Makanan di Danau atau Waduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produktivitas  hayati perairan adalah jumlah produksi yang dapat dihasilkan atau  potensi yang terkandung dalam suatu badan perairan, baik berupa ikan  maupun pakan alaminya. Dengan kata lain menggambarkan kemampuan suatu  perairan dalam menghasilkan produksi hayati per satuan area atau wilayah  tertentu. Produktivitas primer merupakan laju pengubahan bahan-bahan  anorganik menjadi bahan organik melalui proses fotosontesis dengan  bantuan cahaya matahari. Produktivitas primer juga merupakan laju dari  biomassa yang dihasilkan per unit luas algae atau fitoplankton sebagai  produser primer dan dinyatakan sebagai energi (joule/m2/hari) atau bahan  organik kering (kg/ha/tahun). Produktivitas primer dapat dibedakan  menjadi: (a) produktivitas primer kotor, yaitu jumlah seluruh energi  yang dihasilkan dari proses fotosintesis dalam suatu ekosistem. (b)  produktivitas primer bersih, yaitu jumlah energi yang tersisa setelah  dikurangi oleh jumlah yang dibutuhkan untuk proses respirasi aerob dan  tersimpan dalam bentuk bahan organik dalam kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendugaan  tingkat produktivitas suatu perairan akan berhasil baik dan optimal  bila menggunakan pendekatan yang menyeluruh terhadap aspek dan komponen  yang mempengaruhi kondisi perairan tersebut. Pendekatan yang digunakan  melalui pendekatan analisis sistem pola aliran bahan dan energi yang  ada. Pola aliran bahan dan energi dapat membantu dalam pengukuran  sistem, terutama dalam hal: penyebaran informasi laju minimum keluaran  energi dan bahan dari suatu jenjang makanan; dan membantu untuk  menentukan fungsi alami dari hubungan makan-memakan yang mungkin  merupakan sumber kestabilan atau ketidakstabilan ekosistem. Pola aliran  energi dan bahan juga dapat digunakan untuk melihat tingkat gangguan  ekosistem dan biomassa organisme yang menempati tingkat tropik tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produktivitas  kotor (grass productivity) merupakan produksi total yang dihasilkan  dari fotosintesis, sedangkan produktivitas bersih (net productivity)  merupakan sisa produksi setelah dikurangi respirasi. Titik kompensasi  adalah kedalaman yang produksi oksigennya tepat sama dengan  pemanfaatannya. Titik kompensasi menunjukkan kedalaman zona eufotik dan  terjadi jika ada 1% intensitas cahaya sesaat (intensitas cahaya pada  suatu waktu). Pigmen fotosintetik menjadi tidak terjenuhkan oleh cahaya  jika intensitas cahaya sebesar 10% dari intensitas cahaya sesaat.  Perbandingan produktivitas pada perairan tropis dan perairan sub-tropis  ditemukan adanya korelasi negatif yang nyata antara produksi primer  kotor (Gross Primary Production), yang menunjukkan bahwa produksi  cenderung lebih tinggi di daerah tropis. Dari hubungan ini nampak bahwa  produksi musiman pada 10oLU rata-rata tiga kali lebih besar daripada  produksi serupa pada 60oLU. Pada danau sub-tropis sekalipun di perairan  eutrofik yang dangkal, tingkat produksi primer jarang melampaui 3 gr C  m-2 hari-1 , tetapi pada daerah tropis batas atas yang teramati dapat  mencapai 11 gr C m-2 hari-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model sebaran vertikal kemampuan  fotosintesis dapat digambarkan sebagai berikut: fotosintesis di lapisan  permukaaan perairan kecil, karena pengaruh intensitas cahaya yang kuat  pada kedalaman tertentu yaitu pada saat intensitas cahaya optimal, maka  fotosintesis mencapai titik maksimal. Makin dalam perairan pada saat  intensitas cahaya berkurang, makin berkurang pula laju fotosintesisnya.  Pengaruh perubahan fisiologis suhu terhadap produksi fitoplankton ada  dua kemungkinan, yaitu (a) pengaruh jangka pendek berupa adanya beberapa  jenis fitoplankton yang dapat beradaptasi dan mungkin terjadi penurunan  produksi bila perubahan suhu sangat besar. (b) pengaruh jangka panjang  berupa adanya jenis yang dapat beradaptasi dan jenis tersebut  pertumbuhannya optimum pada suhu yang baru, sehingga menjadi dominan di  perairan. Unsur yang sering menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan  fitoplankton di perairan adalah unsur N dan P. Bila perbandingan antara  unsur N dan P &lt;&gt; 15 : 1, maka P  akan menjadi faktor pembatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi Danau atau Waduk  Berdasarkan Produktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perairan danau berdasarkan aliran  pengeluaran airnya dapat diklasifikasikan menjadi: danau terbuka (open  lake) adalah danau yang mempunyai pengeluaran air (out let), dan danau  tertutup (closed lake) adalah danau yang tidak mempunyai pengeluaran  air. Kualitas fisika dan kimia air suatu perairan waduk bervariasi  sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya, geologis, umur waduk,  aktivitas manusia, dan kualitas air sungai yang masuk. Produksi ikan  yang diperoleh pada suatu perairan sangat bervariasi berkaitan dengan  tingkat kesuburan perairan, mutu pakan, dan intensitas pengelolaannya.  Ciri khas dari perairan oligotrofik adalah (a) sangat dalam; (b)  kandungan bahan organik yang tersuspensi dan di dasar perairan kecil;  (c) kandungan Ca, P dan N miskin, bahan humus sangat sedikit atau hampir  tidak ada; (d) tanaman air tingkat tinggi sangat sedikit dan populasi  plankton terbatas&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1489275893235034343-8295355252246257291?l=agungunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agungunindrabio2a.blogspot.com/feeds/8295355252246257291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1489275893235034343&amp;postID=8295355252246257291' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1489275893235034343/posts/default/8295355252246257291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1489275893235034343/posts/default/8295355252246257291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agungunindrabio2a.blogspot.com/2010/07/biologi.html' title='biologi'/><author><name>agungbio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02650322077113181744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_B9z5O4G3rks/TH-5dfJbnkI/AAAAAAAAABg/lC3ThtbmItQ/S220/Picture2289.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1489275893235034343.post-4194420277776252519</id><published>2008-06-24T03:34:00.001-07:00</published><updated>2008-06-26T04:16:41.996-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelajar oon'/><title type='text'>Pelajar blagu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_B9z5O4G3rks/SGN6TtKRs9I/AAAAAAAAAAU/yUZXjQifDMY/s1600-h/cina.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_B9z5O4G3rks/SGN6TtKRs9I/AAAAAAAAAAU/yUZXjQifDMY/s320/cina.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216147272383968210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:18;"  &gt;KENAKALAN REMAJA SEBAGAI PERILAKU MENYIMPANG HUBUNGANNYA DENGAN KEBERFUNGSIAN SOSIAL KELUARGA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kasus Di Pondok Pinang Pinggiran Kota Metropolitan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Masngudin HMS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Abstrak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Masalah sosial yang dikategorikan dalam perilaku menyimpang diantaranya adalah kenakalan remaja. Untuk mengetahui tentang latar belakang kenakalan remaja dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual, individu sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;satuan pengamatan sekaligus sumber masalah. Untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendekatan sistem, individu sebagai satuan pengamatan sedangkan sistem sebagai sumber masalah. Berdasarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa ternyata ada hubungan negative antara kenakalan remaja dengan keberfungsian keluarga. Artinya semakin meningkatnya keberfungsian sosial&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebuah keluarga dalam melaksanakan tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya maka akan semakin rendah tingkat kenakalan anak-anaknya atau kualitas kenakalannya semakin rendah. Di samping itu penggunaan waktu luang yang tidak terarah merupakan sebab yang sangat dominan bagi remaja untuk melakukan perilaku menyimpang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma social yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;baku&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jalur tersebut berarti telah menyimpang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Untuk mengetahui latar belakang perilaku menyimpang perlu membedakan adanya perilaku menyimpang yang tidak disengaja dan yang disengaja, diantaranya karena si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. Sedangkan perilaku yang menyimpang yang disengaja, bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan. Hal yang relevan untuk memahami bentuk perilaku tersebut, adalah mengapa seseorang melakukan penyimpangan, sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Becker (dalam Soerjono Soekanto,1988,26), mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu, tetapi mengapa pada kebanyakan orang tidak menjadi kenyataan yang berwujud penyimpangan, sebab orang dianggap normal biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk menyimpang.&lt;span style=""&gt;                                                                 &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Masalah sosial perilaku menyimpang dalam tulisan tentang “Kenakalan Remaja” bisa melalui pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual melalui pandangan sosialisasi. Berdasarkan pandangan sosialisasi, perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Tentang perilaku disorder di kalangan anak dan remaja (Kauffman , 1989 : 6) mengemukakan bahwa perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai perwujudan dari konteks sosial. Perilaku disorder tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai tindakan yang tidak layak, melainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan sosialnya. Ketidak berhasilan belajar sosial atau “kesalahan” dalam berinteraksi dari transaksi sosial tersebut dapat termanifestasikan dalam beberapa hal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Proses sosialisasi terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi sosial dengan menggunakan media atau lingkungan sosial tertentu. Oleh sebab itu, kondisi kehidupan lingkungan tersebut akan sangat mewarnai dan mempengaruhi input dan pengetahuan yang diserap. Salah satu variasi dari teori yang menjelaskan kriminalitas di daerah perkotaan, bahwa beberapa tempat di kota mempunyai sifat yang kondusif bagi tindakan kriminal oleh karena lokasi tersebut mempunyai karakteristik tertentu, misalnya (Eitzen, 1986 : 400), mengatakan tingkat kriminalitas yang tinggi dalam masyarakat kota pada umumnya berada pada bagian wilayah kota yang miskin, dampak kondisi perumahan di bawah standar, &lt;i style=""&gt;overcrowding, &lt;/i&gt;derajat kesehatan rendah dari kondisi serta komposisi penduduk yang tidak stabil. Penelitian inipun dilakukan di daerah pinggiran &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yaitu di Pondok Pinang Jakarta Selatan tampak ciri-ciri seperti disebutkan Eitzen diatas. Sutherland dalam (Eitzen,1986) beranggapan bahwa seorang belajar untuk menjadi kriminal melalui interaksi. Apabila lingkungan interaksi cenderung devian, maka seseorang akan mempunyai kemungkinan besar untuk belajar tentang teknik dan nilai-nilai devian yang pada gilirannya akan memungkinkan untuk menumbuhkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tindakan kriminal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mengenai pendekatan sistem, yaitu perilaku individu sebagai masalah sosial yang bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai sumber masalah. Dikatakan oleh (Eitzen, 1986:10) bahwa seorang dapat menjadi buruk/jelek oleh karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya pada masyarakat yang mengalami gejala disorganisasi sosial, norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Di dalam masyarakat yang disorganisasi sosial, seringkali yang terjadi bukan sekedar ketidak pastian dan surutnya kekuatan mengikat norma sosial, tetapi lebih dari itu, perilaku menyimpang karena tidak memperoleh sanksi sosial kemudian dianggap sebagai yang biasa dan wajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;II.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;TUJUAN PENELITIAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;1. Mengidentifkasi dan memberikan gambaran bentuk-bentuk kenakalan yang dilakukan remaja di pinggiran &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; metropolitan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, yaitu di kelurahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Pondok Pinang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;2.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Untuk mengetahui hubungaanan aaantara kenakalan remaja dengan keberfungsian sosial keluarga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;3.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penelitian ini ingin memberikan sumbangan bagi pemecahan masalah kenakalan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;remaja dengan memanfaatkan keluarga sebagai basis dalam pemecahan masalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;III.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;METODE PENELITIAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Metode&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pemilihan metode ini karena penelitian yang dilakukan ingin mempelajari masalah-masalah dalam suatu masyarakat, juga hubungan antar fenomena, dan membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Cara pemilihan sampel yang dilakukan pertama memilih wilayah yang mempunyai kategori miskin, dengan cara melihat kondisi mereka yang perumahannya di bawah standar, dengan kondisi penduduk yang sangat padat, lingkungan yang tidak teratur dan perkiraan tingkat kesehatan masyarakatnya yang buruk. Setelah itu konsultasi dengan ketua RW dan ketua-ketua RT untuk mencari informasi tentang warganya yang dianggap telah melakukan kenakalan, dengan &lt;i style=""&gt;perspektif labeling&lt;/i&gt;. Dari informasi tersebut data pada tiga RT. Berdasarkan data tersebut kita jadikan populasi dengan jumlah 40 remaja dan keluarga yang akan dijadikan unit dalam analisis. Dari jumlah tersebut dibuat listing dan tiap RT diambil 10 sampel (remaja dan keluarga) sehingga mendapat 30 responden. Pengambilan sample ini dengan cara random.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dipandu dengan daftar pertanyaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Responden remaja dalam penelitian ini ditentukan bagi mereka yang berusia 13 tahun-21 tahun. Mengingat pengertian anak dalam Undang-undang no 4 tahun 1979 anak adalah mereka yang berumur sampai 21 tahun. Dengan pertimbangan pada usia tersebut, terdapat berbagai masalah dan krisis diantaranya; krisis identitas, kecanduan narkotik, kenakalan, tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah, konflik mental dan terlibat kejahatan (lihat transaksi individu-individu dan keluarga-keluarga dengan sistem kesejahteraan sosial). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;IV.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;KERANGKA KONSEP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Konsep Kenakalan Remaja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (1988 : 93) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”. Dalam Bakolak inpres no: 6 / 1977 buku pedoman 8, dikatakan bahwa kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku / tindakan remaja yang bersifat anti sosial, melanggar norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat.&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Singgih D. Gumarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum ; (2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa. Menurut bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan ; (1) kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin (3) kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll. Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985 : 73). Bahwa perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang normal dalam bukunya “ &lt;i style=""&gt;Rules of Sociological Method&lt;/i&gt;” dalam batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya secara tuntas, dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keberfungsian      sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Istilah keberfungsian sosial mengacu pada cara-cara yang dipakai oleh individu akan kolektivitas seperti keluarga dalam bertingkah laku agar dapat melaksanakan tugas-tugas kehidupannya serta dapat memenuhi kebutuhannya. Juga dapat diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dan pokok bagi penampilan beberapa peranan sosial tertentu yang harus dilaksanakan oleh setiap individu sebagai konsekuensi dari keanggotaannya dalam masyarakat. Penampilan dianggap efektif diantarannya jika suatu keluarga mampu melaksanakan tugas-tugasnya, menurut (Achlis, 1992) keberfungsian sosial adalah kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas dan peranannya selama berinteraksi dalam situasi social tertentu berupa adanya rintangan dan hambatan dalam mewujudkan nilai dirinnya mencapai kebutuhan hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keberfungsian sosial kelurga mengandung pengertian pertukaran dan kesinambungan, serta adaptasi resprokal antara keluarga dengan anggotannya, dengan lingkungannya, dan dengan tetangganya dll. Kemampuan berfungsi social secara positif dan adaptif bagi sebuah keluarga salah satunnya jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan dan fungsinya terutama dalam sosialisasi terhadap anggota keluarganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                              &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;V.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;HASIL PENELITAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bentuk Kenakalan Yang Dilakukan Responden&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Berdasarkan data di lapangan dapat disajikan hasil penelitian tentang kenakalan remaja sebagai salah satu perilaku menyimpang hubungannya dengan keberfungsian sosial keluarga di Pondok Pinang pinggiran &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; metropolitan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Adapun ukuran yang digunakan untuk mengetahui kenakalan seperti yang disebutkan dalam kerangka konsep yaitu (1) kenakalan biasa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(2) Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan dan (3) Kenakalan Khusus. Responden dalam penelitian ini berjumlah 30 responden, dengan jenis kelamin laki-laki 27 responden, dan perempuan 3 responden. Mereka berumur antara 13 tahun-21 tahun. Terbanyak mereka yang berumur antara 18 tahun-21 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bentuk Kenakalan Remaja Yang Dilakukan Responden (n=30)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 314.6pt;" valign="top" width="419"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bentuk Kenakalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;f&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 314.6pt;" valign="top" width="419"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Berbohong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pergi keluar   rumah tanpa pamit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keluyuran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Begadang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;membolos   sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Berkelahi   dengan teman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Berkelahi   antar sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Buang sampah   sembarangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;membaca buku   porno&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;melihat gambar porno&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;11.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;menontin film porno&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;12.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mengendarai kendaraan bermotor tanpa SIM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;13.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kebut-kebutan/mengebut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;14.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Minum-minuman keras&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;15.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kumpul kebo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;16.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hubungan sex diluar nikah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;17.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mencuri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;18.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mencopet&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;19.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Menodong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;20.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Menggugurkan Kandungan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;21.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Memperkosa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;22.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Berjudi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;23.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Menyalahgunakan narkotika&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;24.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Membunuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;30&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;30&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;28&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;26&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;17&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;10&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;21&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;25&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;12&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;14&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;10&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;22&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;100&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;100&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;93,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;98,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;23,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;56,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;6,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;33,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;16,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;23,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;16,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;70,0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;63,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;83,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;16,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;40,0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;46,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;26,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;10,0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;6,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;3,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;33,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;73,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 12.6pt 0.0001pt -14.4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;3,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                           &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bahwa seluruh responden pernah melakukan kenakalan, terutama pada tingkat kenakalan biasa seperti berbohong, pergi ke luar rumah tanpa pamit pada orang tuanya, keluyuran, berkelahi dengan teman, membuang sampah sembarangan dan jenis kenakalan biasa lainnya. Pada tingkat kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai kendaraan tanpa SIM, kebut-kebutan, mencuri,minum-minuman keras, juga cukup banyak dilakukan oleh responden. Bahkan pada kenakalan khususpun banyak dilakukan oleh responden seperti hubungan seks di luar nikah, menyalahgunakan narkotika, kasus pembunuhan, pemerkosaan, serta menggugurkan kandungan walaupun kecil persentasenya. Terdapat cukup banyak dari mereka yangkumpul kebo. Keadaan yang demikian cukup memprihatinkan. Kalau hal ini tidak segera ditanggulangi akan membahayakan baik bagi pelaku, keluarga, maupun masyarakat. Karena dapat menimbulkan masalah sosial di kemudian hari yang semakin kompleks.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;B. Hubungan Antara Variabel Independen dan Dependen &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hubungan antara       jenis kelamin dengan tingkat kenakalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Salah satu hubungan variabel yang disajikan disini adalah hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kenakalan. Hal ini untuk mengetahui apakah anak laki-laki lebih nakal dari anak perempuan atau probalitasnya sama. Berdasarkan tabel hubungan diperoleh data sebagai berikut; Anak laki-laki yang melakukan kenakalan biasa 3 responden (10%), kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2 responden, dan kenakalan khusus 22&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;responden (73,3%). Sedangkan anak perempuan yang melakukan kenakalan biasa 2 responden (2,7%) dan kenakalan khusus 1 responden (3,3%). Kenyataan tersebut menunjukkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa sebagian besar yang melakukan kenakalan khusus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah anak laki-laki (73,3%), namun terdapat juga anak perempuannya. Kalau dibandingkan diantara 27 responden anak laki-laki 22 responden (81,5%) diantaranya melakukan kenakalan khusus, sedangkan dari 3 responden perempuan 1 responden&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(33,3%) yang melakukan kenakalan khusus, berarti probababilitas anak laki-laki lebih besar kecenderungannya untuk melakukan kenakalan khusus. Demikian juga yang melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anak perempuan tidak ada yang melakukannya. Dengan demikian maka anak laki-laki kecenderungannya akan melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan lebih dibandingkan dengan anak perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hubungan antara       pekerjaan responden dengan tingkat kenakalan yang dilakukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Berdasarkan data yang ada, pekerjaan responden adalah sebagai pelajar dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak bekerja (menganggur) masing-masing 13 responden (43,3%), sebagai buruh dan berdagang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;masing-masing 2 responden (6,7%). Dari tabel&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;korelasi persebaran datanya sebagai berikut; Pelajar yang melakukan kenakalan biasa 5 responden (16,7%), kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan 2 responden (6,7%),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan kenakalan khusus 6 responden (20%) . Sedangkan mereka yang tidak bekerja (menganggur) semuanya 13 responden melakukan kenakalan khusus, juga mereka yang bekerja sebagai pedagang dan buruh semuanya melakukan kenakalan khusus. Dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;data tersebut dapat disimpulkan bahwa kecenderungan untuk melakukan kenakalan khusus ataupun jenis kenakalan lainnya adalah mereka yang tidak sibuk, atau banyak waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk kegiatan positif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Seharusnya semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin rendah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melakukan kenakalan. Sebab dengan pendidikan yang semakin tinggi, nalarnya semakin baik. Artinya mereka tahu aturan-aturan ataupun norma sosial mana yang seharusnya tidak boleh dilanggar. Atau mereka tahu rambu-rambu mana yang harus dihindari dan mana yang harus dikerjakan. Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Mereka yang tamat SLTA justru yang paling banyak melakukan tindak kenakalan 17 responden (56,7%) yang berarti separoh lebih,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan terbanyak 12 responden (40%) melakukan kenakalan khusus, 2 responden (6,7%) melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan, dan 4 responden (13,3%) melakukan kenakalan biasa. Demikian juga mereka yang pendidikan terakhirnya SLTP, dari 12 responden, 11 responden (36,7%) melakukan kenakalan khusus. Sedang mereka yang hanya tamat SD 1 responden juga melakukan kenakalan khusus. Dengan demikian maka tidak ada hubungan antara tingkatan pendidikan dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kenakalan yang dilakukan, artinya semakin tinggi pendidikannya tidak bisa dijamin untuk tidak melakukan kenakalan. Artinya di lokasi penelitian kenakalan remaja yang dilakukan bukan karena rendahnya tingkat pendidikan mereka, karena disemua tingkat pendidikan dari SD sampai dengan SLTA&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;proporsi untuk melakukan kenakalan sama kesempatannya. Dengan demikian faktor yang kuat adalah seperti yang disebutkan di atas, yaitu adanya waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk kegiatan positif, dan adanya pengaruh buruk dalam sosialisasi dengan teman bermainnya atau faktor lingkungan sosial yang besar pengaruhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                           &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;C. Hubungan Antara Kenakalan Remaja Dengan Keberfungsian Sosial Keluarga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dalam kerangka konsep telah diuraikan tentang keberfungsian sosial keluarga, diantaranya&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;adalah kemampuan berfungsi sosial secara positif dan adaptif bagi keluarga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yaitu jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya serta mampu memenuhi kebutuhannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hubungan antara pekerjaan orang tuanya dengan tingkat kenakalan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Untuk mengetahui apakah kenakalan juga ada hubungannya dengan pekerjaan orangtuanya, artinya tingkat pemenuhan kebutuhan hidup. Karena pekerjaan orangtua dapat dijadikan ukuran kemampuan ekonomi, guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal ini perlu diketahui karena dalam keberfungsian sosial, salah satunya adalah mampu memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan data yang ada mereka yang pekerjaan oangtuanya sebagai pegawai negeri 5 responden (16,7%), berdagang 4 responden (13,3%), buruh 5 responden (16,6%), tukang kayu 2 responden (6,7%), montir/sopir 6 responden (20%), wiraswasta 5 responden (16,6%), dan pensiunan 1 responden (3,3%). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari tabel korelasi diketahui bahwa kecenderungan anak pegawai negeri walaupun melakukan kenakalan, namun pada tingkat kenakalan biasa. Lain halnya bagi mereka yang orang tuanya mempunyai pekerjaan dagang, buruh, montir/sopir, dan wiraswasta yang kecendrungannya melakukan kenakalan khusus. Hal ini berarti pekerjaan orang tua berhubungan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Keadan yang demikian karena mungkin bagi pegawai negeri lebih memperhatikan anaknya untuk mencapai masa depan yang lebih baik, ataupun kedisiplinan yang diterapkan serta nilai-nilai yang disosisalisasikan lebih efektif. Sedang bagi mereka yang bukan pegawai negeri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga kurang ada perhatian pada sosialisasai penanaman nilai dan norma-norma sosial kepada anak-anaknya. Akibat dari semua itu maka anak-anaknya lebih tersosisalisasi oleh kelompoknya yang kurang mengarahkan pada kehidupan yang normative. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hubungan antara keutuhan keluarga dengan tingkat kenakalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Secara teoritis keutuhan keluarga dapat berpengaruh terhadap kenakalan remaja. Artinya banyak terdapat anak-anak remaja yang nakal datang dari keluarga yang tidak utuh, baik dilihat dari struktur keluarga maupun dalam interaksinya di keluarga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dilihat dari keutuhan struktur keluarga, 21 responden (70%) dari keluarga utuh, dan 9 responden dari keluarga tidak utuh. Berdasarkan data pada tabel korelasi ternyata struktur keluarga ketidak utuhan struktur keluarga bukan jaminan bagi anaknya untuk melakukan kenakalan, terutama kenakalan khusus. Karena ternyata mereka yang berasal dari keluarga utuh justru lebih banyak yang melakukan kenakalan khusus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Namun jika dilihat dari keutuhan dalam interaksi, terlihat jelas bahwa mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang melakukan kenakalan khusus berasal dari keluarga yang interaksinya kurang dan tidak serasi sebesar 76,6%. Perlu diketahui bahwa keluarga yang interaksinya serasi berjumlah 3 responden (10%), sedangkan yang interaksinya kurang serasi 14 responden (46,7%), dan yang tidak serasi 13 responden (43,3%). Jadi ketidak berfungsian keluarga untuk menciptakan keserasian dalaam interaksi mempunyai kecenderungan anak remajanya melakukan kenakalan. Artinya semakin tidak serasi hubungan atau interaksi dalam keluarga tersebut tingkat kenakalan yang dilakukan semakin berat, yaitu pada kenakalan khusus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hubungan antara kehidupan beragama keluarganya dengan tingkat kenakalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kehidupan beragama kelurga juga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosial keluarga. Sebab dalam konsep keberfungsian juga dilihat dari segi rokhani. Sebab keluarga yang menjalankan kewajiban agama secara baik, berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik, maka anak-anaknyapun akan melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma agama. Berdasarkan data yang ada mereka yang keluarganya taat beragama 6 responden (20%), kurang taat beragama 15 responden (50%), dan tidak taat beragama 9 responden (30%). Dari tabel korelasi diketahui 70% dari responden yang keluarganya kurang dan tidak taat beragama melakukan kenakalan khusus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dengan demikian ketaatan dan tidaknya beragama bagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keluarga sangat berhubungan dengan kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Hal ini berarti bahwa bagi keluarga yang taat menjalankan kewajiban agamanya kecil kemungkinan anaknya melakukan kenakalan, baik kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan maupun kenakalan khusus, demikian juga sebaliknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anaknya dengan tingkat kenakalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Salah satu sebab kenakalan yang disebutkan pada kerangka konsep di atas adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. Mereka yang orang tuanya otoriter sebanyak 5 responden (16,6%), overprotection 3 responden (10%), kurang memperhatikan 12 responden (40%), dan tidak memperhatikan sama sekali 10 responden (33,4%). Dari tabel korelasi diperoleh data seluruh responden yang orang tuanya tidak memperhatikan sama sekali melakukan kenakalan khusus dan yang kurang memperhatikan 11 dari 12 responden melakukan kenakalan khusus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari kenyataan tersebut ternyata peranan keluarga dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya dengan tingkat kenakalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lengkungan sosialnya. Adapun yang diharapkan dari hubungan tersebut adalah serasi, karena keserasian akan menciptakan kenyamanan dan ketenteraman. Apabila hal itu dapat diciptakan, hal itu meruapakan proses sosialisasi yang baik bagi anak-anaknya. Mereka yang berhubungan serasi dengan lingkungan sosialnya berjumlah 8 responden (26,6%), kurang serasi 12 responden (40%), dan tidak serasi 10 responden (33,4%). Dari data yang ada terlihat bagi keluarga yang kurang dan tidak serasi hubungannya dengan tetangga atau lingkungan sosialnya mempunyai kecenderungan anaknya melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat yaitu kenakalan khusus. Keadaan tersebut dapat dilihat dari 23 responden yang melakukan kenakalan khusus&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;19 responden dari dari keluarga yang interaksinya dengan tetangga kurang atau tidak serasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;6. Pernah tidaknya responden ditahan dan dihukum hubungannya dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keutuhan struktur dan interaksi keluarga, serta ketaatan keluarga dalam menjalankan kewajiban beragama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                           &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Data tentang responden yang pernah ditahan berjumlah 15 responden, dari jumlah tersebut 3 responden (20%) karena kasus perkelaian, masing-masing 1 responden (6,7%) karena kasus penegeroyokan dan pembunuhan, 5 responden (33,3%) karena kasus obat terlarang (narkotika) dan 8 responden (53,3%) karena kasus pencurian.&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Sedangkan responden yang pernah dihukum penjara berjumlah 10 responden dengan rincian 7 responden karena kasus pencurian, masing-masing 1 responden karena ksus pengeroyokan, pembunuhan, dan narkotika. Adapun lamanya mereka dihukum antara 1 bulan-3 tahun, dengan rincian sebagai berikut 4 responden (40%) dihukum penjara selama 1 bulan, 3 responden (30%) dihukum 3 bulan, masing-masing 1 responden (10%) dihukum 7 bulan, 2 tahun, dan 3 tahun . Dari responden yang pernah ditahan dan di hukum semuanya dari keluarga yang struktur keluarganya utuh, tetapi interaksinya kurang dan tidak serasi. Hal ini menunjukkan bahwa masalah interaksi dalam keluarga merupakan sebab utama seorang remaja sampai ditahan dan dihukum penjara. Sedangkan dari sudut ketaatan dalam menjalankan kewajiban agam bagi keluarganya masih terdapat 1 responden yang pernah ditahan dan dihukum karena kasus pencurian. Artinya bahwa ketaatan beragama dari keluarganya belum menjamin anaknya bebas dari kenakalan dan ditahan serta dihukum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;D. Analisis Hubungan Antara Keberfungsian Sosial Keluarga dengan Kenakalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Remaja &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Setelah dianalisis secara bivariat antara beberapa variabel, maka untuk melengkapinya dianalisis secara statistik dengan rumus product moment guna&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melihat keeratan hubungan tersebut. Berdasarkan tabel distribusi koefisiensi korelasi product moment diperoleh data sebagai berikut; nilai x = 510&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;y = 322 x2 = 9.010&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;y2 = 3.752&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;xy = 5.283&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;hasil perhitungan yang diperoleh = - 0,6022. Sedang nilai r yang diperoleh dalam tabel dengan taraf significansi 5%, dengan sampel 30 adalah 0,361&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Berdasarkan data tersebut karena nilai r yang diperoleh dari hasil penelitian jauh dari batas significansi nilai r yang diperolehnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berarti ada hubungan negative antara keberfungsian keluarga dengan kenakalan remaja yang dilakukan. Artinya semakin tinggi tingkat berfungsi sosial keluarga, akan semakin rendah tingkat kenakalan remajanya, demikian sebaliknya semakin rendah keberfungsian sosial keluarga maka akan semakin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tinggi tingkat kenakalan remajanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dari uraian di atas bisa dilihat bahwa secara jenis kelamin terlihat remja pria lebih cenderung melakukan kenakalan pada tinglat khusus, walaupun demilikan juga remaja perempuan yang melakukan kenakalan khusus. Dari sudut pekerjaan atau kegiatan sehari-hari remaja ternyata yang menganggur mempunyai kecenderungan tinggi melakukan kenakalan khusus demikian juga mereka yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berdagang dan menjadi buruh juga tinggi kecenderungannya untuk melakukan kenakalan khusus. Pemenuhan kebutuhan keluarga juga berpengaruh pada tingkat kenakalan remajanya, artinya bagi keluarga yang tiap hari hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan keluarganya seperti yang orang tuanya bekerja sebagai buruh, tukang, supir dan sejenisnya ternyata anaknya kebanyakan melakukan kenakalan khusus. Demilian juga bagi keluarga yang interaksi sosialnya kurang dan tidak serasi anak-anaknya melakukan kenakalan khusus. Kehidupan beragama keluarga juga berpengaruh kepada tingkat kenakalan remajanya, artinya dari keluarga yang taat menjalankan agama anak-anaknya hanya melakukan kenakalan biasa, tetapi bagi keluarga yang kurang dan tidak taat menjalankan ibadahnya anak-anak mereka pada umumnya melakukan kenakalan khusus.Hal lain yang dapat dilihat bahwa sikap orang orang tua dalam sosialisasi terhadap anaknya juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kenakalan yang dilakukan, dari data yang diperoleh bagi keluarga yang kurang dan masa bodoh dalam pendidikan (baca sosialisasi) terhadap anaknya maka umumnya anak mereka melakukan kenakalan khusus. Dan akhirnya keserasian hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya juga berpengaruh pada kenakalan anak-anak mereka. Mereka yang hubungan sosialnya dengan lingkungan serasi anak-anaknya walaupun melakukan kenakalan tetapi pada tingkat kenakalan biasa, tetapi mereka yang kurang dan tidak serasi hubungan sosialnya dengan lingkungan anak-anaknya melakukan kenakalan khusus.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;VI.&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kesimpulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Berdasarkan analisis di atas, ditemukan bahwa remaja yang memiliki waktu luang banyak seperti mereka yang tidak bekerja atau menganggur dan masih pelajar kemungkinannya lebih besar untuk melakukan kenakalan atau perilaku menyimpang. Demikian juga dari keluarga yang tingkat keberfungsian sosialnya rendah maka kemungkinan besar anaknya akan melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat.Sebaliknya bagi keluarga yang tingkat keberfungsian sosialnya tinggi maka kemungkinan anak-anaknya melakukan kenakalan sangat kecil, apalagi kenakalan khusus. Dari analisis statistik (kuantitatif) maupun kualitatif dapat ditarik kesimpulan umum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa ada hubungan negatif antara keberfungsian sosial keluarga dengan kenakalan remaja, artinya bahwa semakin tinggi keberfungsian social keluarga akan semakin rendah kenakalan yang dilakukan oleh remaja. Sebaliknya semakin ketidak berfungsian sosial suatu keluarga maka semakin tinggi tingkat kenakalan remajanya (perilaku menyimpang yang dilakukanoleh remaja. Berdasarkan kenyataan di atas, maka untuk memperkecil tingkat kenakalan remaja ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu meningkatkan keberfungsian sosial keluarga melalui program-program kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan pembangunan social yang programnya sangat berguna bagi pengembangan masyarakat secara keseluuruhan Di samping itu untuk memperkecil perilaku menyimpang remaja dengan memberikan program-program untuk mengisi waktu luang, dengan meningkatkan program di tiap karang taruna. Program ini terutama diarahkan pada peningkatan sumber daya manusianya yaitu program pelatihan yang mampu bersaing dalam pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="border-style: solid none none; padding: 1pt 0cm 0cm;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0cm; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Masngudin HMS, adalah peneliti pada Puslitbang UKS, Badan Latbang Sosial Departemen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Sosial&lt;/st1:city&gt;  &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="border-style: solid none none; padding: 1pt 0cm 0cm;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Daftar Pustaka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Achlis, 1992, &lt;i style=""&gt;Praktek Pekerjaan Sosial I&lt;/i&gt;, STKS , &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Eitzen, Stanlen D, 1986, &lt;i style=""&gt;Social Problems&lt;/i&gt;, Allyn and Bacon inc, &lt;st1:city st="on"&gt;Boston&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;Sydney&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Toronto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Gunarsa Singgih D at al, 1988, &lt;i style=""&gt;Psikologi Remaja&lt;/i&gt;, BPK Gunung Mulya, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kartini Kartono,1986, &lt;i style=""&gt;Psikologi Sosial 2, Kenakalan Remaja&lt;/i&gt;, Rajawali, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kaufman, James, M, 1989, &lt;i style=""&gt;Characteristics of Behaviour Disorders of Children and Youth&lt;/i&gt;, Merril Publishing Company, &lt;st1:city st="on"&gt;Columbus&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Toronto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Nazir, Moh, 1985, &lt;i style=""&gt;Metode Penelitian&lt;/i&gt;, Ghalia &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sartono, Suwarniyati, 1985, &lt;i style=""&gt;Pengukuran Sikap Masyarakat terhadap Kenakalan Remaja di DKI &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/i&gt;, laporan penelitian, UI, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Soerjono Soekanto, 1988, &lt;i style=""&gt;Sosiologi Penyimpangan&lt;/i&gt;, Rajawali, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;_______________, 1985 &lt;i style=""&gt;Perubahan Sosial&lt;/i&gt;, Rajawali, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1489275893235034343-4194420277776252519?l=agungunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agungunindrabio2a.blogspot.com/feeds/4194420277776252519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1489275893235034343&amp;postID=4194420277776252519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1489275893235034343/posts/default/4194420277776252519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1489275893235034343/posts/default/4194420277776252519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agungunindrabio2a.blogspot.com/2008/06/pelajar-blagu.html' title='Pelajar blagu'/><author><name>agungbio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02650322077113181744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_B9z5O4G3rks/TH-5dfJbnkI/AAAAAAAAABg/lC3ThtbmItQ/S220/Picture2289.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_B9z5O4G3rks/SGN6TtKRs9I/AAAAAAAAAAU/yUZXjQifDMY/s72-c/cina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1489275893235034343.post-6355436377655799827</id><published>2008-06-24T02:41:00.000-07:00</published><updated>2008-06-24T03:08:40.576-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perennialisme'/><title type='text'>tugass</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_B9z5O4G3rks/SGDHS7a4TKI/AAAAAAAAAAM/_oheMBdMNP0/s1600-h/spiderman_12.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_B9z5O4G3rks/SGDHS7a4TKI/AAAAAAAAAAM/_oheMBdMNP0/s320/spiderman_12.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215387496497040546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Perennialisme&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(a) Berhubungan dengan perihal sesuatu yang terakhir. Cenderung menekankan seni dan sains dengan dimensi perennial yang bersifat integral dengan sejarah manusia. (b) Pertama yang harus diajarkan adalah tentang manusia, bukan mesin atau teknik. Sehingga tegas aspek manusiawinya dalam sains dan nalar dalam setiap tindakan. (c) Mengajarkan prinsip-prinsip dan penalaran ilmiah, bukan fakta. (d) Mencari hukum atau ide yang terbukti bernilai bagi dunia yang kita diami. (e) Fungsi pendidikan adalah untuk belajar hal-hal tersebut dan mencari kebenaran baru yang mungkin. (f) Orientasi bersifat philosophically-minded. Jadi, fokus pada perkembangan personal.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Esensialisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(a) Berkaitan dengan hal-hal esensial atau mendasar yang seharusnya manusia tahu dan menyadari sepenuhnya tentang dunia dimana mereka tinggal dan juga bagi kelangsungan hidupnya. (b) Menekankan data fakta dengan kurikulum yang tampak bercorak vokasional. (c) Konsentrasi studi pada materi-materi dasar tradisional seperti: membaca, menulis, sastra, bahasa asing, matematika, sejarah, sains, seni dan musik. (d) Pola orientasinya bergerak dari skill dasar menuju skill yang bersifat semakin kompleks. (e) Perhatian pada pendidikan yang bersifat menarik dan efisien. (f) Yakin pada nilai pengetahuan untuk kepentingan pengetahuan itu sendiri. (g) Disiplin mental diperlukan untuk mengkaji informasi mendasar tentang dunia yang didiami serta tertarik pada kemajuan masyarakat teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Progresivisme&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) Suka melihat manusia sebagai pemecah persoalan (problem-solver) yang baik. (b) Oposisi bagi setiap upaya pencarian kebenaran absolut. (c) Lebih tertarik kepada perilaku pragmatis yang dapat berfungsi dan berguna dalam hidup. (d) Pendidikan dipandang sebagai suatu proses. (e) Mencoba menyiapkan orang untuk mampu menghadapi persoalan aktual atau potensial dengan keterampilan yang memadai. (f) Mempromosikan pendekatan sinoptik dengan menghasilkan sekolah dan masyarakat bagi humanisasi. (g) Bercorak student-centered. (h) Pendidik adalah motivator dalam iklim demoktratis dan menyenangkan. (i) Bergerak sebagai eksperimentasi alamiah dan promosi perubahan yang berguna untuk pribadi atau masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;4. Rekonstruksionisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;(a) Promosi pemakaian problem solving tetapi tidak harus dirangkaikan dengan penyelesaian problema sosial yang signifikan. (b) Mengkritik pola life-adjustment (perbaikan tambal-sulam) para Progresivist. (c) Pendidikan perlu berfikir tentang tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk itu pendekatan utopia pun menjadi penting guna menstimuli pemikiran tentang dunia masa depan yang perlu diciptakan. (d) Pesimis terhadap pendekatan akademis, tetapi lebih fokus pada penciptaan agen perubahan melalui partisipasi langsung dalam unsur-unsur kehidupan. (e) Pendidikan berdasar fakta bahwa belajar terbaik bagi manusia adalah terjadi dalam aktivitas hidup yang nyata bersama sesamanya. (f) Learn by doing! (Belajar sambil bertindak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju tentang pengertian pendidikan yang pertama yaitu pendidikan merupakan upaya yang nyata untuk memfasilitasi individu lain dalam mencapai kemandirian serta kematangan mentalnya sehingga dapat survive dialam kompetisi kehidupannya.sebab seseorang membutuhkan bekal untuk menghadapi hidupnya kelak.maka pendidikanlah yang mempunyai banyak peran dalam menunjang kehidupannya mendatang.dengan pendidikan seseorang dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian dan potensi individu.baik dalam aspek individualitas,social,dan religius.misalnya saja bayi yang baru lahir kepribadiannya belum terbentuk,belum mempunyai warna dan corak kepribadian yang tertentu.ia baru merupakan individu,belum suatu pribadi.untuk menjadi suatu pribadi perlu mendapat bimbinga,latihan,dan pengalaman melalui bergaul denga lingkangannya.khususnya dengan lingkungan pendidikan.bagi mereka yang sudah dewasa tetap dituntut pengembangan diri agar kualitas kepribadian meningkat serempak dengan meningkatnya tantangan hidup yang selalu berubah.dalam hubungan ini dikenal dengan apa yang disebut pendidikan sepanjang hidup.pembentukan pribadi mencakup pembentukan cipta,rasa,karsa(kognitif,afektif dan psikomotor)yang sejalan dengan pengembanga fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan pendidikan dan pengajaran&lt;br /&gt;Jika pendidikan berhubungan dengan seluruh asapek kepribadian dan potensi individu sedangakan pengajaran merupakan kegiatan secara akumulatif dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan .&lt;br /&gt;Posisi eskalasi mental seseorang berada pada tingkatan yang normal .ketika dia masih kecil,sifatnya juga masih kekanak kanakan.Ketika sudah dewasa sifat pribadinya dan mentalnya juga dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjunjung Martabat Guru&lt;br /&gt;Author: Abdul Halim Fathani. 20 November 2006 : 12:01 pm.&lt;br /&gt;Sekolah-Menulis Jarak Jauh Cara menerbitkan buku &gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum 2004 atau yang sering disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sudah selesai disempurnakan. Namun, namanya sudah diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Karena KTSP disahkan 2006, maka banyak yang salah ucap dengan sebutan Kurikulum 2006. Penyebutan KTSP ini sesuai dengan Permendiknas Nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006. Dalam peraturan tersebut, tidak menyebutkan Kurikulum 2006, tetapi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jadi, yang benar adalah KTSP dengan Standar Isi 2006. Pemakaian istilah kurikulum ini perlu sekali diluruskan dan disosialisasikan kepada masyarakat awam, khususnya kepada pihak-pihak yang terkait dengan urusan pendidikan. Pihak-pihak terkait dimaksud tentunya yang berhubungan dengan tenaga pendidik dan kependidikan, praktisi dan pengamat pendidikan, konsultan, dinas pendidikan/pemerintah. Sangat memalukan jika kalangan terkait justru memakai istilah yang keliru.&lt;br /&gt;Tidak sedikit di antara kita berpikiran skeptis, apatis, dan cemooh dengan adanya perubahan (nama kurikulum) tersebut. Anggapan negatif seperti itu justru tidak membuat dunia pendidikan kita menjadi lebih maju. Sebaliknya, hanya memperkeruh keinginan yang akan kita inginkan bersama. Perubahan-perubahan pada standar isi kurikulum seharusnya disikapi sebagai tanggapan positif (postive thinkhing) terhadap perubahan dan tuntutan zaman. Tentu saja hal ini sejalan dengan link and match di dunia pendidikan kita. Tuntutan pangsa pasar yang berkembang dewasa ini merupakan konsekuensi yang semestinya dijawab oleh dunia pendidikan. Perubahan ini sebagai suatu pertanda bahwa dunia pendidikan kita mencoba untuk berbuat lebih banyak dengan cara mencari sinkronisasi kecakapan hidup (life skill).&lt;br /&gt;KTSP yang merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah. Departemen Pendidikan Nasional mengharapkan paling lambat tahun 2009/2010, tiap sekolah telah melaksanakan KTSP. Landasan hukum KTSP adalah UU. No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP. 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, BSNP juga berpijak kepada Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Peraturan Mendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).&lt;br /&gt;Mengacu kepada panduan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang dibuat oleh BNSP, sekolah diberi keleluasaan merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan kurikulum sekolah sesuai dengan situasi, kondisi, dan potensi keunggulan lokal yang dapat dimunculkan oleh sekolah. Sekolah dapat mengembangkan standar yang lebih tinggi dari standar isi dan standar kompetensi lulusan. Prinsip pengembangan KTSP adalah (1) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya; (2) Beragam dan terpadu; (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan; (5) Menyeluruh dan berkesinambungan; (6) Belajar sepanjang hayat; (7) Dan seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, KTSP sangat relevan dengan konsep desentralisasi pendidikan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan konsep manajemen berbasis sekolah (MBS) yang mencakup otonomi sekolah di dalamnya. Pemerintah daerah dapat lebih leluasa berimprovisasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Pun, sekolah bersama komite sekolah diberi otonomi menyusun kurikulum sendiri sesuai dengan kebutuhan di lapangan.&lt;br /&gt;Salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah adanya penyeragaman kurikulum dari Sabang sampai Merauke, tidak melihat pada situasi riil di lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal. Sekolah di kota sama dengan sekolah di pelosok pedalaman. Sekolah di daerah perindustrian sama dengan sekolah yang daerah pesisir pantai, sekolah di pusat ibu kota sama dengan di wilayah pedesaan. Dengan demikian, kurikulum tersebut menjadi kurang operasional, sehingga tidak memberikan kompetensi yang cukup bagi peserta didik untuk mengembangkan diri dan daerahnya. Akibatnya para lulusan kalah bersaing di dunia kerja dan berimplikasi terhadap peningkatan angka pengangguran.&lt;br /&gt;Terdapat dampak postitif pemberlakuan KTSP, di antaranya adalah memberikan keleluasaan kepada guru dan sekolah untuk membuat kurikulum sendiri yang disesuaikan dengan keadaan siswa, keadaan sekolah, dan keadaan lingkungan. Sekolah bersama dengan komite sekolah dapat bersama-sama merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi lingkungan sekolah. Sekolah dapat bermitra dengan stakeholder pendidikan, misalnya, dunia industri, kerajinan, pariwisata, petani, nelayan, organisasi profesi, dan sebagainya agar kurikulum yang dibuat oleh sekolah benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.&lt;br /&gt;Selama ini, guru sudah terbiasa menjalankan program pembelajaran yang memang hanya tinggal menjabarkan ke dalam silabus atau satuan pelajaran dalam kurikulum 1994. Guru dalam kurikulum ini dituntut siap memanfaatkan keleluasaan ini dengan sebaik-baiknya. Tentu saja penyusunan kurikulum ini tidak dari nol karena Depdiknas telah menyiapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Guru atau sekolah hanya tinggal merumuskan materi pokok dan indikator dari kompetensi dasar yang telah ada. Di tingkat perguruan tinggi, membuat kurikulum sendiri sudah dilakukan sejak dari dulu. Dosen dengan leluasa dapat menentukan sendiri materi-materi yang penting dikuasai mahasiswa. Kemudian, tidak pernah terjadi penyeragaman kurikulum antara perguruan tinggi yang satu dengan perguruan tinggi yang lain, walaupun jurusan atau program studinya sama. Dengan keleluasaan membuat kurikulum ini, dinamika kampus dalam bidang akademik lebih semarak karena akan senantiasa selalu terjadi pembaruan-pembaruan dalam perjalanannya.&lt;br /&gt;Kalau kita membanding-ban­dingkan guru dengan dosen, banyak sekali kelebihan yang dimiliki dosen walau kedua profesi ini pada dasarnya sama, yakni mendidik calon manusia dewasa. Pembanding­an ini bukan untuk menumbuhkan rasa iri guru kepada dosen. Kelebihan yang dimiliki dosen antara lain, jam mengajar umumnya lebih sedikit, hari kosongnya lebih banyak, selalu diberi bantuan untuk mengadakan penelitian, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke strata yang lebih tinggi lebih terbuka, mempunyai akses lebih mudah pada teknologi dan yang terpenting kelulusan seorang mahasiswa ada di tangan dosen.&lt;br /&gt;Berbeda sekali dengan guru, guru tidak memiliki kelebihan-kelebihan seperti itu. Bahkan guru tidak dapat membantu kelulusan siswanya padahal siswa yang ingin dibantunya adalah siswa yang sehari-harinya pintar dan akh­lak-moralnya baik. Ketidaklulusan siswa tersebut karena ketika ujian sakit sehingga kurang konsentrasi akhirnya mendapat nilai di bawah standar. Dan, yang lebih menyakitkan, mata pelajaran yang nilainya di bawah standar hanya satu mata pelajaran. Ini benar-benar terjadi dalam setiap ujian nasional (sejak diberlakukan standar kelulusan UN).&lt;br /&gt;Melalui KTSP kiranya perbedaan guru dengan dosen mulai dikurangi sedikit demi sedikit. Satu hal yang mulai ada kesamaan adalah tentang keleluasaan dalam menyusun kurikulum. Keleluasaan dalam menyusun kurikulum, penulis istilahkan dengan otonomi. Dengan demikian, kini guru dan dosen sama-sama memiliki otonomi. Dengan adanya otonomi guru, penulis berkeyakinan kreativitas guru akan muncul karena guru akan menjadi konseptor-konseptor yang siap melahirkan berbagai pemikiran yang berkaitan dengan kurikulum dan kemajuan siswa.&lt;br /&gt;Di masa mendatang, otonomi guru ini mudah-mudahan akan lebih berkembang. Di masa mendatang pula dengan otonomi guru mudah-mudahan kelulusan siswa benar-benar ditentukan oleh guru karena yang mengetahui siswa secara mendalam bukan soal ujian, tetapi guru siswa tersebut. (*)Abd. Halim FathaniPengamat Politik Pendidikan dan Sekretaris Eksekutif Lingkar Cendekia Kemasyarakatan (LACAK) Malang&lt;br /&gt;This entry is filed under Esai dan Opini, Pendidikan, Ragam, Tematik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.&lt;br /&gt;Prev/Next Posts&lt;br /&gt;« Mengkaji Rasionalitas Al-Manar Home 20 Langkah Salah dalam Mendidik Anak »&lt;br /&gt;One Response to “Menjunjung Martabat Guru”&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Asshibbamal says:&lt;br /&gt;November 23rd, 2006 at 08:02 am&lt;br /&gt;Memang benar, bahwa Kurikulum dengan Standar isi 2006 telah memacu kompetensi pserta didik, meski masih butuh pembuktian. Tapi berkaca dari KBK, karena yang terbaru ini adalah pengmbangan dari sana, kompetensi peserta didik kan digeber lebih pol. Sayangny, tetap saja terdapat kekurangan di beberapa segi.&lt;br /&gt;Pertama, tidak relevan jika proses mengajar yang ideal harus melulu yang selama ini dimiliki oleh dosen. Masalahnya, dosen telah berhadapan pada orang yang sejatinya telah menyiapkan dengan seluruh tenaga untuk memasuki dunia kerja. sementara guru tidaklah demikian. Tak jarang, guru terus memberi putusan untuk membantu menyelesaikan problem dalam siswa. Dikhawatirkan, karena masih anak atau remaja, mereka salah memilih dan malah terjerumus. Jadi, esensinya berbeda. Lantas, berimplikasi pada pemakaian kurikulum yang mestinya masih pada “pemberian petunjuk” yang mana yang benar dan mana yang salah. Termasuk balam substansi kurikulum.&lt;br /&gt;Kedua, masih berkaca dari pengalaman KBK, rupanya bahan yang diajarkan cukup lepas dari substansi yang diinginkan untuk memasuki perguruan tinggi. Tentu ini akan menjadi penghambat bagi produktivitas sumber daya manusia yang matang melalui pendidikan akademis perguruan tinggi.&lt;br /&gt;Walaupun begitu, kedua gejala kelemahan kurikulum terbaru ini masih berupa tanda-tanda. Artinya, bagi pihak yang terkait dapat mengantisipasi lebih dini. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Mahasiswa Fisipol UGM&lt;br /&gt;Diposting oleh rizki_gue_banget_gitu di 03:16 0 komentar&lt;br /&gt;Rabu, 2008 Maret 26&lt;br /&gt;Kurikulum merupakan kunci utama penjamin terselenggaranya pendidikan formal. Ditetapkannya Permendiknas nomor 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan menunjukkan terjadinya perubahan dalam hal struktur, isi dan penerapan kurikulum pengajaran di sekolah. Saat ini, kurikulum yang diyatakan berlaku secara nasional di Indonesia adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tim pemandu lokalatih dari The CBE hadir menjadi pihak yang terdepan dalam memfasilitasi publik, terutama para pihak penyelenggara layanan pendidikan formal di semua jenjang dan satuan pendidikan agar mampu merancang dan menerapkan KTSP sesuai kaidah yang tepat sehingga dapat memetik hasil yang melimpah bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam satuan pendidikan yang telah dilatih tersebut.&lt;br /&gt;detail&lt;br /&gt;LOKALATIH DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah merupakan institusi baru dalam ranah Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia. Kelahiran kedua institusi ini merupakan wujud nyata dari serangkaian agenda besar Otonomi Daerah di bidang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan. Namun masih banyak pihak, terutama para pemangku kebijakan yang saat ini berperan sebagai pejabat baru di dalam kedua institusi tersebut masih mengalami kegamangan dalam memainkan peranan serta merumuskan kerja-kerja nyata yang seharusnya dilakukan bagi peningkatan kapasitas dan mutu sistem penyelenggaraan pendidikan di wilayah kerjanya. Menjawab permasalahan inilah The CBE hadir melalui program Lokalatih yang dirancang khusus bagi Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota dan Komite Sekolah agar dapat berperan aktif, membentuk jejaring, dan menjalankan agenda-agenda pendidikan transformatif dalam rangka meningkatkan mutu dan kapasitas sistem pendidikan di wilayah kerjanya.&lt;br /&gt;detail&lt;br /&gt;LOKALATIH PENGAJARAN SAINS Di tengah dunia yang makin global, pengajaran sains sebagai salah satu mata pelajaran penting di sekolah mempunyai peran yang penting bagi wpengembangan awasan dan kehidupan para peserta didik kelak. Karenanya, memastikan agar kelas pengajaran sains menjadi kelas inspiratif serta mampu menjadi pembangun pusat keunggulan sekaligus kelas yang paling menyenangkan dan selalu dinanti peserta didik untuk belajar didalamnya menjadi sangat penting. Mutu pembelajaran sains juga dapat mendorong citra positif dan menaikkan nilai tawar sekolah. The CBE menyelenggarakan program Lokalatih Pengajaran Sains untuk membantu sekolah-sekolah mencapai keunggulannya melalui pembelajaran sains yang inspiratif dan efektif.&lt;br /&gt;detail&lt;br /&gt;ASSESMENT SEKOLAHPerkembangan dan Mutu sebuah kelembagaan penyelenggara layanan pendidikan perlu diukur secara berkala agar mampu dibuktikan dan dipertanggungjawabkan pencapaian-pencapaiannya (performance) kepada semua pemangku kepentingan dari kelembagaan tersebut. Pentingnya sebuah pengukuran dan penilaian secara berkala terletak pada hasil-hasil dan temuan atas proses pengukuran serta penilaian tersebut yang dapat diposisikan sebagai bahan sahih atas bukti pencapaian atau perkembangan institusi penyelenggara pendidikan, atau hasil kinerja suatu badan penyelenggara dari institusi pendidikan tersebut. Hal ini semakin diperkuat karena temuan dan hasil kajian dimaksud berasal dari kelembagaan independen diluar pemangku kepentingan lembaga tersebut. Pihak Yayasan atau Badan Penyelenggara Pendidikan dapat memanfaatkan layanan ini untuk mendapatkan gambaran lengkap atas pencapaian kelembagaan maupun kinerja Badan Pengelola Pendidikan dengan difasilitasi oleh tim Asessor dari The CBE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum merupakan kunci utama penjamin terselenggaranya pendidikan formal. Ditetapkannya Permendiknas nomor 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan menunjukkan terjadinya perubahan dalam hal struktur, isi dan penerapan kurikulum pengajaran di sekolah. Saat ini, kurikulum yang diyatakan berlaku secara nasional di Indonesia adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tim pemandu lokalatih dari The CBE hadir menjadi pihak yang terdepan dalam memfasilitasi publik, terutama para pihak penyelenggara layanan pendidikan formal di semua jenjang dan satuan pendidikan agar mampu merancang dan menerapkan KTSP sesuai kaidah yang tepat sehingga dapat memetik hasil yang melimpah bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam satuan pendidikan yang telah dilatih tersebut.&lt;br /&gt;detail&lt;br /&gt;LOKALATIH DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah merupakan institusi baru dalam ranah Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia. Kelahiran kedua institusi ini merupakan wujud nyata dari serangkaian agenda besar Otonomi Daerah di bidang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan. Namun masih banyak pihak, terutama para pemangku kebijakan yang saat ini berperan sebagai pejabat baru di dalam kedua institusi tersebut masih mengalami kegamangan dalam memainkan peranan serta merumuskan kerja-kerja nyata yang seharusnya dilakukan bagi peningkatan kapasitas dan mutu sistem penyelenggaraan pendidikan di wilayah kerjanya. Menjawab permasalahan inilah The CBE hadir melalui program Lokalatih yang dirancang khusus bagi Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota dan Komite Sekolah agar dapat berperan aktif, membentuk jejaring, dan menjalankan agenda-agenda pendidikan transformatif dalam rangka meningkatkan mutu dan kapasitas sistem pendidikan di wilayah kerjanya.&lt;br /&gt;detail&lt;br /&gt;LOKALATIH PENGAJARAN SAINS Di tengah dunia yang makin global, pengajaran sains sebagai salah satu mata pelajaran penting di sekolah mempunyai peran yang penting bagi wpengembangan awasan dan kehidupan para peserta didik kelak. Karenanya, memastikan agar kelas pengajaran sains menjadi kelas inspiratif serta mampu menjadi pembangun pusat keunggulan sekaligus kelas yang paling menyenangkan dan selalu dinanti peserta didik untuk belajar didalamnya menjadi sangat penting. Mutu pembelajaran sains juga dapat mendorong citra positif dan menaikkan nilai tawar sekolah. The CBE menyelenggarakan program Lokalatih Pengajaran Sains untuk membantu sekolah-sekolah mencapai keunggulannya melalui pembelajaran sains yang inspiratif dan efektif.&lt;br /&gt;detail&lt;br /&gt;ASSESMENT SEKOLAHPerkembangan dan Mutu sebuah kelembagaan penyelenggara layanan pendidikan perlu diukur secara berkala agar mampu dibuktikan dan dipertanggungjawabkan pencapaian-pencapaiannya (performance) kepada semua pemangku kepentingan dari kelembagaan tersebut. Pentingnya sebuah pengukuran dan penilaian secara berkala terletak pada hasil-hasil dan temuan atas proses pengukuran serta penilaian tersebut yang dapat diposisikan sebagai bahan sahih atas bukti pencapaian atau perkembangan institusi penyelenggara pendidikan, atau hasil kinerja suatu badan penyelenggara dari institusi pendidikan tersebut. Hal ini semakin diperkuat karena temuan dan hasil kajian dimaksud berasal dari kelembagaan independen diluar pemangku kepentingan lembaga tersebut. Pihak Yayasan atau Badan Penyelenggara Pendidikan dapat memanfaatkan layanan ini untuk mendapatkan gambaran lengkap atas pencapaian kelembagaan maupun kinerja Badan Pengelola Pendidikan dengan difasilitasi oleh tim Asessor dari The CBE.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1489275893235034343-6355436377655799827?l=agungunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agungunindrabio2a.blogspot.com/feeds/6355436377655799827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1489275893235034343&amp;postID=6355436377655799827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1489275893235034343/posts/default/6355436377655799827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1489275893235034343/posts/default/6355436377655799827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agungunindrabio2a.blogspot.com/2008/06/1.html' title='tugass'/><author><name>agungbio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02650322077113181744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_B9z5O4G3rks/TH-5dfJbnkI/AAAAAAAAABg/lC3ThtbmItQ/S220/Picture2289.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_B9z5O4G3rks/SGDHS7a4TKI/AAAAAAAAAAM/_oheMBdMNP0/s72-c/spiderman_12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
